Nusantara, infokatulistiwanews.com – Penguatan pasokan cabai tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi petani. Akses pasar dan kepastian penyerapan hasil panen juga menjadi perhatian dalam Festival Cabai Nusantara 2026 di Nusantara Park, Ibu Kota Nusantara (IKN), 26–27 September. Melalui kolaborasi Otorita IKN dan Bank Indonesia (BI), petani didorong meningkatkan kualitas budi daya sekaligus terhubung langsung dengan calon pembeli agar pasokan terjaga tanpa membuat harga di tingkat petani jatuh saat panen melimpah.
Kepala Sekretariat Kerja Bersama Bank Indonesia IKN, Sunarso, mengatakan cabai memiliki peran penting dalam pergerakan inflasi karena menjadi salah satu komoditas yang dekat dengan konsumsi masyarakat Indonesia.

Menurutnya, gangguan pasokan cabai dalam jumlah relatif kecil sekalipun dapat memengaruhi harga. Sebaliknya, ketika produksi melimpah pada musim panen, petani berpotensi menghadapi penurunan harga karena jumlah pasokan melebihi permintaan.
“Pada saat masukannya sangat tinggi, kalau musim panen, biasanya petani menghadapi problem utama adalah harganya menurun. Karena tadi pasokannya berlebihan, sementara permintaannya ya tetap saja,” kata Sunarso dalam kegiatan Festival Cabai Nusantara, Sabtu, 26 September 2026.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penguatan sektor cabai perlu dilakukan dari hulu hingga hilir. Peningkatan produksi tanpa dukungan pemasaran berpotensi membuat petani kesulitan menjual hasil panen, sementara pasokan yang tidak stabil dapat berdampak pada harga yang dibayar konsumen.
Karena itu, BI mendorong pengembangan cabai tidak hanya melalui peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga melalui penguatan akses pasar dan pengolahan hasil panen.
Salah satu upaya yang didorong dalam festival adalah business matching, yakni mempertemukan petani dengan calon pembeli atau offtaker yang dapat menyerap hasil panen.
Sunarso menjelaskan, calon pembeli tidak hanya berasal dari pasar tradisional, tetapi juga hotel, restoran, dan perusahaan pengolahan sambal. Dengan mengenali calon pembeli sejak awal, petani dapat memiliki gambaran ke mana hasil panen akan dipasarkan ketika produksi meningkat.
“Jadi kita harus tahu siapa nanti kalau usaha di desa saya punya cabai, ke mana saya akan pasarkan. Itu juga menjadi bagian penting agar petani. Kalau cabai saya berlebih, saya harus ke mana,” ujarnya.
Menurut Sunarso, akses pasar perlu diperluas melampaui wilayah sekitar IKN, termasuk ke Samarinda dan Balikpapan, serta pasar lain di Indonesia.
Dengan demikian, hasil panen tidak hanya bergantung pada permintaan lokal. Keterhubungan petani dengan calon pembeli juga diharapkan membantu menjaga penyerapan ketika produksi meningkat.
Selain pemasaran, BI mendorong peningkatan kemampuan petani dalam menerapkan praktik budi daya yang lebih baik. Pengembangan tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, akademisi, petani, dan pemangku kepentingan terkait.
Sunarso mengatakan petani perlu memperoleh pembaruan pengetahuan agar tidak hanya mengandalkan cara budi daya turun-temurun.
“Harapannya apa? Kalau pintar, kualitas cabai hasilnya juga lebih baik. Kapasitas produksinya juga lebih baik,” katanya.
Peningkatan kualitas dan kapasitas produksi diharapkan berjalan beriringan dengan kepastian pemasaran. Sebab, pasokan yang terjaga perlu didukung penyerapan hasil panen agar peningkatan produksi tidak berujung pada penurunan harga yang merugikan petani.
Festival Cabai Nusantara juga memperkenalkan pengolahan cabai sebagai salah satu cara meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.
Sunarso mengatakan produk olahan dapat menjadi alternatif ketika produksi cabai melimpah. Pengolahan memungkinkan hasil panen dimanfaatkan menjadi produk dengan nilai jual berbeda, sehingga pemasaran tidak hanya bergantung pada penjualan cabai segar.
“Kalau kita lihat di sepanjang acara ini, ternyata juga banyak produk-produk olahan yang pada saat nanti misalnya kita lagi panen banyak-banyak pasokan, itu bisa diolah sebagai produk-produk olahan yang tentunya bisa memberikan nilai tambah buat petani,” ujarnya.
Upaya tersebut juga membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan produk berbahan cabai.
Dalam festival yang berlangsung selama dua hari itu, pengunjung dapat melihat beragam produk olahan cabai, produk lokal, tanaman pangan dan hortikultura, sayuran segar, hingga minuman herbal.
Bazar UMKM menjadi salah satu ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk sekaligus menjangkau konsumen dan calon mitra usaha.
Dengan menghubungkan produksi, pengolahan, dan pemasaran, pengembangan cabai diharapkan tidak berhenti pada peningkatan hasil panen, tetapi juga memberi peluang pendapatan bagi petani dan pelaku usaha.
Sementara itu, Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam OIKN, Myrna Asnawati Safitri, mengatakan Festival Cabai Nusantara merupakan bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan dan program prioritas pemerintah.
Menurutnya, cabai memiliki keterkaitan dengan konsumsi rumah tangga, kesehatan, perekonomian, serta inflasi.
“Cabai bukan hanya berkaitan dengan rasa pedas, tetapi juga berkaitan dengan ekonomi negara, bahkan inflasi juga. Cabai itu adalah salah satu komoditas yang punya kandungan nutrisi yang baik, vitamin C dan antioksidannya juga tinggi,” kata Myrna.
Ia mengatakan festival menjadi sarana mengenalkan keanekaragaman pangan sekaligus mendorong masyarakat memanfaatkan sumber pangan lokal.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan sesi berbagi pengetahuan mengenai budi daya cabai, pertanian perkotaan atau urban farming, serta sosialisasi Pengolahan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dan larangan membakar.
Myrna menyampaikan ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan rumah, termasuk dengan menanam cabai di pekarangan maupun menggunakan pot kecil tanpa membutuhkan lahan yang luas.
Pendekatan tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memproduksi sebagian kebutuhan pangan rumah tangga sekaligus mengenal proses budi daya tanaman.
Festival Cabai Nusantara 2026 turut menghadirkan kontes dan lelang tanaman cabai, bazar UMKM, lomba memasak kreasi sambal Nusantara, IKN Chili Challenge, permainan, kelas kecantikan, serta hiburan musik.
Pengunjung juga dapat melihat beragam jenis cabai yang ditampilkan dalam kontes tanaman.
Nursanti, pengunjung dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Samboja, mengaku memperoleh pengetahuan baru mengenai jenis cabai dan produk lokal yang dipasarkan dalam festival.
“Sebelumnya yang saya tahu hanya cabai rawit, ternyata ada macam-macam cabai. Di sini ada cabai, kopi, pisang, telur, dan harganya terjangkau. Mudah-mudahan festival seperti ini selalu diadakan,” ujarnya.
Festival yang digelar OIKN bersama BI tersebut didukung berbagai mitra, antara lain BRI, Bankaltimtara, Syngenta, Suzuki, SKK Migas, Pertamina Hulu Mahakam, Pupuk Kaltim, dan sejumlah perusahaan serta mitra lainnya.
Melalui kegiatan ini, penguatan pangan lokal di IKN diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan petani menjaga kualitas, menemukan pasar, dan mengolah hasil panen. Bagi konsumen, pasokan yang lebih terjaga diharapkan mendukung ketersediaan cabai, sementara bagi petani, akses pasar menjadi bagian penting untuk menjaga hasil usaha tetap bernilai saat panen melimpah.
Red~ IKN









