Menu

Mode Gelap
Kemenlu RI Pastikan Koordinasi Intensif Pelindungan WNI di Timur Tengah Jalan Rusak dan Anak Putus Sekolah, Pengalaman Pahit Warga 2 Kampung di Polman Pemerintah perkuat peran generasi muda melalui Mangrove Goes To School Kejaksaan Negeri Merauke Dalami Aliran Dana Dugaan Korupsi BUMD ke Eks Bupati Boven Digoel Otorita IKN Perkuat Pelaku Usaha Lokal untuk Bangun Ekosistem Ekonomi Berkelanjutan Ko Erwin Bandar Narkoba Ditangkap Saat Hendak Kabur ke Malaysia

Warta Entertainment

Dari Keheningan Menjadi Harmoni, Kisah Inspiratif Musikal Jemari

badge-check


					Dari Keheningan Menjadi Harmoni, Kisah Inspiratif Musikal Jemari Perbesar

Pertunjukan musikal tuli bertajuk Jemari berhasil memukau penonton saat digelar pada 3–7 Desember 2025 di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan. Sajian yang memadukan bahasa isyarat, musik, gerak, dan teater ini dihadirkan untuk merayakan Hari Disabilitas Internasional.

Produser musikal Jemari, Pascal Meliala, mengatakan pertunjukan tersebut bukan sekadar karya seni, tetapi ruang yang menunjukkan bahwa semua orang memiliki tempat yang sama di panggung seni maupun dalam kehidupan.

“Di Hari Disabilitas Internasional, kita diingatkan bahwa inklusivitas bukan soal memberi ruang kepada mereka yang berbeda. Karena memberi ruang berarti ruang itu milik kita, dan orang lain hanya numpang lewat,” kata Pascal dalam keterangan tertulis, Dikutip Kamis, 11 Desember 2025.

Pascal menjelaskan antusiasme penonton dari berbagai latar belakang muncul karena kekompakan para pemain tuli yang mampu menyampaikan emosi melalui perpaduan musik dan bahasa isyarat. “Mereka memiliki panggung ini bersama kita, jadi tak ada pemisahan,” jelasnya.

Pascal menegaskan Jemari menjadi debut kolaborasi penuh antara dunia Dengar dan Tuli. Melalui pertemuan dua bahasa, panggung musikal ini membuktikan bahwa inklusi dapat diwujudkan secara nyata.

“Yang benar adalah membagi ruang. Ruang yang sama, ruang yang setara. Ruang tempat setiap orang berdiri sebagai manusia yang punya mimpi, suara, dan cara berbahasa yang berbeda, tapi sama berharganya,” ungkapnya.

Pertunjukan ini sekaligus menandai sejarah baru bagi komunitas Tuli di Indonesia, karena Jemari menjadi produksi musikal pertama berskala penuh yang digarap secara mandiri oleh komunitas Tuli.

“Pencapaian ini adalah tonggak penting dalam membangun ekosistem seni yang inklusif dan memberi ruang bagi pelaku seni Tuli untuk bersinar,” ungkap Pascal.

Sementara Pembina musikal Jemari, AKBP Muhammad Ardila Amry, menegaskan bahwa setiap talenta dapat berkembang jika diberikan kesempatan yang setara.

“Dengan akses yang tepat, lingkungan yang tepat, dan orang-orang yang tepat, maka setiap talenta dapat bersinar,” ucap Ardila.

Dia berharap kesadaran untuk membuka ruang bagi semua pihak dapat terus tumbuh. “Terima kasih untuk kesadarannya. Mari jadikan keberadaan kita lebih adil dan berarti bagi sesama,” bebernya.

Musikal Jemari sendiri mengangkat kisah tentang kehilangan, keberanian mencintai, dan keyakinan bahwa cinta yang tulus mampu melampaui perbedaan bahasa antara dunia Tuli dan Dengar.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kemenekraf kemukakan peluang cerita “Timun Mas” dikembangkan jadi IP

27 Februari 2026 - 05:45 WITA

Pemerintah Buka Ruang Kolaborasi untuk Angkat Talenta Musik Indonesia

21 Februari 2026 - 07:50 WITA

Menbud Fadli Nilai, Film Penting untuk Diplomasi Budaya

14 Februari 2026 - 05:15 WITA

Theresa Kusumadjaja, Wanita Indonesia Pertama Masuk Nominasi Grammy Awards

12 Februari 2026 - 11:10 WITA

Drama Chiki Fawzi Jadi Petugas Haji: Dicopot Mendadak, Dipanggil, Dibatalkan Lagi

29 Januari 2026 - 06:24 WITA

Trending di Warta Entertainment