Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Entertainment

Dari Keheningan Menjadi Harmoni, Kisah Inspiratif Musikal Jemari

badge-check


					Dari Keheningan Menjadi Harmoni, Kisah Inspiratif Musikal Jemari Perbesar

Pertunjukan musikal tuli bertajuk Jemari berhasil memukau penonton saat digelar pada 3–7 Desember 2025 di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan. Sajian yang memadukan bahasa isyarat, musik, gerak, dan teater ini dihadirkan untuk merayakan Hari Disabilitas Internasional.

Produser musikal Jemari, Pascal Meliala, mengatakan pertunjukan tersebut bukan sekadar karya seni, tetapi ruang yang menunjukkan bahwa semua orang memiliki tempat yang sama di panggung seni maupun dalam kehidupan.

“Di Hari Disabilitas Internasional, kita diingatkan bahwa inklusivitas bukan soal memberi ruang kepada mereka yang berbeda. Karena memberi ruang berarti ruang itu milik kita, dan orang lain hanya numpang lewat,” kata Pascal dalam keterangan tertulis, Dikutip Kamis, 11 Desember 2025.

Pascal menjelaskan antusiasme penonton dari berbagai latar belakang muncul karena kekompakan para pemain tuli yang mampu menyampaikan emosi melalui perpaduan musik dan bahasa isyarat. “Mereka memiliki panggung ini bersama kita, jadi tak ada pemisahan,” jelasnya.

Pascal menegaskan Jemari menjadi debut kolaborasi penuh antara dunia Dengar dan Tuli. Melalui pertemuan dua bahasa, panggung musikal ini membuktikan bahwa inklusi dapat diwujudkan secara nyata.

“Yang benar adalah membagi ruang. Ruang yang sama, ruang yang setara. Ruang tempat setiap orang berdiri sebagai manusia yang punya mimpi, suara, dan cara berbahasa yang berbeda, tapi sama berharganya,” ungkapnya.

Pertunjukan ini sekaligus menandai sejarah baru bagi komunitas Tuli di Indonesia, karena Jemari menjadi produksi musikal pertama berskala penuh yang digarap secara mandiri oleh komunitas Tuli.

“Pencapaian ini adalah tonggak penting dalam membangun ekosistem seni yang inklusif dan memberi ruang bagi pelaku seni Tuli untuk bersinar,” ungkap Pascal.

Sementara Pembina musikal Jemari, AKBP Muhammad Ardila Amry, menegaskan bahwa setiap talenta dapat berkembang jika diberikan kesempatan yang setara.

“Dengan akses yang tepat, lingkungan yang tepat, dan orang-orang yang tepat, maka setiap talenta dapat bersinar,” ucap Ardila.

Dia berharap kesadaran untuk membuka ruang bagi semua pihak dapat terus tumbuh. “Terima kasih untuk kesadarannya. Mari jadikan keberadaan kita lebih adil dan berarti bagi sesama,” bebernya.

Musikal Jemari sendiri mengangkat kisah tentang kehilangan, keberanian mencintai, dan keyakinan bahwa cinta yang tulus mampu melampaui perbedaan bahasa antara dunia Tuli dan Dengar.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tari Maengket: Ungkapan Syukur Identitas Budaya

17 Oktober 2026 - 03:40 WITA

Dirikan Sekolah Gratis di Perkampungan, Andien Ingin Pendidikan Jadi Jalan Keluar dari Kemiskinan

15 Oktober 2026 - 06:43 WITA

Artis yang Tak Tinggal Diam soal Karhutla Kalimantan: Nana Mirdad Murka, Luna Maya Buka Donasi

13 Oktober 2026 - 04:30 WITA

Sinopsis Empat Musim Pertiwi, Film Putri Marino yang Terpilih Mewakili Indonesia di Oscar

11 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Kris Dayanti Rajin Olahraga Wushu di Usia 50 Tahun, Sukses Raih Emas

9 Oktober 2026 - 05:56 WITA

Trending di Warta Entertainment