Kulon Progo, infokatulistiwanews.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membawa pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) langsung ke Sentra Tahu Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, untuk membantu pelaku UMKM meningkatkan proses produksi sekaligus mengembangkan produk turunan tahu bernilai tambah. Upaya tersebut dilakukan melalui program BRIN Goes To Society pada 15–16 September 2026.
Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya BRIN memastikan hasil riset dan inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat digunakan untuk menjawab persoalan konkret yang dihadapi masyarakat dan pelaku usaha. Di Sentolo, BRIN memfokuskan pendampingan pada dua aspek, yakni evaluasi proses produksi untuk meningkatkan efisiensi, kualitas, dan konsistensi produk serta diversifikasi tahu untuk membuka peluang pasar yang lebih luas.

Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada K/L, Masyarakat, dan UMKM BRIN, Driszal Fryantoni, mengatakan pemanfaatan riset dan inovasi harus berangkat dari kebutuhan nyata pengguna agar teknologi yang diterapkan benar-benar memberikan manfaat.
“Pemanfaatan riset dan inovasi harus dapat menjawab kebutuhan nyata di masyarakat. Melalui pendampingan, kami ingin membantu pelaku UMKM menemukan solusi berbasis iptek yang relevan dengan persoalan usaha mereka, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung,” ujar Driszal.
Pendampingan bertajuk Coaching Clinic Evaluasi Proses Produksi dan Diversifikasi Produk Turunan Berbahan Dasar Tahu tersebut merupakan bagian dari Program Pendampingan Usaha Mikro Berbasis Iptek (PUMI) yang diselenggarakan Direktorat Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada K/L, Masyarakat, dan UMKM BRIN.
Melalui program tersebut, BRIN mempertemukan kapasitas riset dan teknologi dengan pengalaman serta kebutuhan pelaku usaha di lapangan. Pendekatan ini dilakukan karena penerapan teknologi pada UMKM tidak dapat diseragamkan. Setiap usaha memiliki karakteristik, persoalan produksi, kebutuhan teknologi, dan pasar yang berbeda.
Karena itu, pendampingan dilakukan dengan mempertimbangkan profil dan kebutuhan masing-masing usaha. Bentuk dukungan dapat mencakup penerapan teknologi hasil riset, pengujian produk, sertifikasi, hingga promosi. Untuk Sentra Tahu Sentolo, evaluasi proses produksi dan diversifikasi produk ditempatkan sebagai dua langkah yang saling berkaitan dalam memperkuat kinerja usaha sekaligus membuka peluang pengembangan pasar.
Menurut Driszal, pola pendampingan tersebut juga diarahkan untuk membangun hubungan berkelanjutan antara periset dan pelaku usaha. Pelaku UMKM memiliki pengalaman produksi serta pemahaman terhadap kondisi pasar, sementara BRIN memiliki kapasitas riset dan teknologi yang dapat digunakan untuk membantu menjawab persoalan usaha.
“Yang ingin kami bangun adalah ekosistem pemanfaatan yang berkelanjutan. Pelaku usaha memiliki pengalaman dan memahami kebutuhan pasar, sementara BRIN memiliki kapasitas riset dan teknologi. Ketika keduanya dipertemukan, diharapkan muncul solusi yang benar-benar dapat diterapkan dan memberikan dampak terhadap usaha,” kata Driszal.
Pendampingan tersebut karena itu tidak diarahkan berhenti setelah coaching clinic. Tindak lanjut dapat dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing UMKM, termasuk dalam pengembangan produk, peningkatan kualitas proses produksi, serta penguatan kemampuan pelaku usaha dalam mengambil keputusan pengembangan bisnis.
Salah satu peluang yang didorong adalah diversifikasi produk berbahan dasar tahu. Dengan pengembangan tersebut, tahu yang selama ini menjadi produk utama Sentra Tahu Sentolo berpeluang diolah menjadi produk turunan dengan nilai tambah dan jangkauan pasar yang lebih luas.
Red~ IKN









