Menu

Mode Gelap
Sosok Ibrahim Al Abrar, Bocah SD Boyolali Penemu Celah Keamanan Web NASA Eks Pejabat Dinas PUTR Batu Bara Divonis 6 Tahun di Kasus Korupsi Jalan Rp 43 M Kisah April DA7 yang Menginspirasi, Ketekunan Bawa Dirinya dari Jalanan ke Dunia Hiburan Presiden Prabowo: LNG Abadi Masela Jadi Tonggak Kemandirian Energi dan Mesin Baru Kemakmuran Rakyat Ledakan Gudang Amunisi Tewaskan 1 Prajurit dan Enam Lainnya Terluka, TNI AD Bentuk Tim Investigasi 1,2 Juta NIK Warga Miskin Dibobol, Ombudsman Desak Dinsos-Diskomdigi Benahi Sistem Keamanan Digital

Warta Nusantara

Inflasi RI Diramal Memanas: Efek Harga BBM, Rupiah & Pangan Menghantam

badge-check


					Inflasi RI Diramal Memanas: Efek Harga BBM, Rupiah & Pangan Menghantam Perbesar

Inflasi Indonesia diperkirakan kembali naik pada Juni 2026 seiring kenaikan harga pangan dan lonjakan harga BBM non-subsidi di tengah pelemahan rupiah.

Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data inflasi Juni 2026 pada besok, Rabu (1/7/2026).

Konsensus pasar yang dihimpun dari 13 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) akan naik atau mengalami inflasi 0,30% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juni 2026.

Sementara itu, secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan akan mencapai 3,2%.

Sebagai catatan, pada Mei 2026 Indonesia mengalami inflasi 0,28% (mtm), sementara secara tahunan inflasi tercatat 3,08% (yoy) dan inflasi inti mencapai 2,59% (yoy).

Dengan demikian, inflasi Juni 2026 diperkirakan naik baik secara bulanan maupun tahunan dibandingkan Mei. Kenaikan ini didorong oleh tekanan harga pangan, lonjakan harga BBM non-subsidi, serta dampak pelemahan rupiah terhadap harga barang impor.

Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menilai inflasi Juni terutama dipicu oleh kenaikan harga sejumlah bahan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, gandum, kedelai, dan bawang putih.

“Inflasi Juni terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan seperti beras, gula, minyak goreng, gandum, kedelai, dan bawang putih. Selain itu, sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia, harga BBM non-subsidi juga meningkat. Pelemahan rupiah juga berdampak terhadap kenaikan imported inflation,” ujar Juniman kepada CNBC Indonesia.

Meski demikian, Juniman menambahkan ada pula sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga pada bulan ini, seperti daging sapi, daging ayam, telur, cabai, cabai merah, dan bawang merah. Penurunan harga emas dunia juga dinilai ikut menekan harga emas dan perhiasan.

Merujuk data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), sejumlah harga pangan memang naik pada Juni 2026.

Harga bawang merah naik 11,38% menjadi rata-rata Rp53.330 per kg. Harga bawang putih juga meningkat 8,21% ke Rp42.014/kg.

Kelompok cabai juga masih mencatat kenaikan. Harga cabai rawit merah naik 3,50% menjadi Rp73.325 per kg, sementara cabai merah keriting meningkat 2,78% ke Rp56.900/kg.

Harga cabai merah besar juga naik 1,78% menjadi Rp58.998 per kg. Selain itu, minyak goreng kemasan bermerk 1 meningkat 1,38% ke Rp24.223/kg.

Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang menilai tekanan inflasi Juni tidak hanya berasal dari dampak awal penyesuaian harga BBM Pertamax yang mengerek pos transportasi, tetapi juga diperberat oleh kombinasi pelemahan nilai tukar rupiah dan masih tingginya harga minyak mentah global.

Sebagai catatan, hingga penutupan perdagangan Selasa (29/6/2026) per pukul 10.15 WIB, rupiah berada di level Rp17.893/US$ atau mengalami depresiasi 0,16% di sepanjang Juni.

Kondisi tersebut dinilai mendorong kenaikan harga bahan baku impor serta membengkaknya biaya operasional logistik yang kemudian mulai merambat ke harga barang dan jasa domestik.

“Kenaikan inflasi ini tidak hanya dipicu oleh dampak first-round effect kebijakan penyesuaian harga BBM Pertamax yang mengerek pos transportasi, tetapi juga diperberat oleh kombinasi pelemahan nilai tukar rupiah dan masih tingginya harga minyak mentah di pasar global,” ujar Hosianna.

Dia menambahkan kombinasi faktor eksternal tersebut secara langsung mendorong imported inflation serta kenaikan biaya logistik di dalam negeri.

“Kombinasi faktor eksternal ini secara langsung mendorong kenaikan harga bahan baku impor serta membengkaknya biaya operasional logistik, yang pada akhirnya mulai bertransmisi pada kenaikan harga barang baku dan sektor jasa domestik,” lanjutnya.

Sebagai catatan, sejumlah badan usaha penyedia Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti PT Pertamina (Persero), BP-AKR, dan Vivo Indonesia kompak menaikkan harga produk BBM non-subsidi. Penyesuaian harga tersebut berlaku sejak 10 Juni 2026.

Sebagai contoh harga BBM non-subsidi di DKI Jakarta. Untuk produk BBM Pertamax per 10 Juni 2026 harganya naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Harga BBM Pertamax Green 95 juga naik menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter.

Di SPBU BP-AKR, harga BP 92 naik menjadi Rp16.670 per liter dari sebelumnya Rp12.390 per liter. Sementara itu, BP Ultimate meningkat menjadi Rp17.240 per liter dari sebelumnya Rp12.930 per liter.

Adapun di SPBU Vivo, harga Revvo 95 naik menjadi Rp17.240 per liter dari sebelumnya Rp12.930 per liter.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Presiden Prabowo: LNG Abadi Masela Jadi Tonggak Kemandirian Energi dan Mesin Baru Kemakmuran Rakyat

17 Juli 2026 - 06:07 WITA

Yusril: Pemerintah Tunggu DPR Selesai Susun RUU Perampasan Aset

15 Juli 2026 - 05:37 WITA

Prabowo Minta Militer, Polisi, Jaksa Introspeksi: Bintangmu Uang Rakyat

11 Juli 2026 - 05:40 WITA

Luncurkan Biodiesel B50, Presiden Prabowo: Kemandirian Energi adalah Pilar Kedaulatan Bangsa

10 Juli 2026 - 06:21 WITA

Presiden Prabowo Terima Tony Blair di Kertanegara, Pererat Silaturahmi dan Bahas Perkembangan Strategis Global

7 Juli 2026 - 03:52 WITA

Trending di Warta Nusantara