Menu

Mode Gelap
Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan Mutasi Polri Agustus 2026, Kapolda dan Wakapoda Sulut serta Sejumlah Pejabat Utama Pindah Tugas hingga Promosi Jabatan Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali Kejagung Tampilkan Uang Sitaan Rp401 Miliar Kasus Nikel PT CNI Strategi Tepat Hadapi El Nino, Petani di Luwu Utara Sukses Panen Raya Jepang Kirim Helikopter Bantu Atasi Karhutla RI

Warta Nusantara

Kala Prabowo Heran Ekonomi Indonesia Tumbuh, tapi Penduduk Miskin Makin Banyak

badge-check


					Kala Prabowo Heran Ekonomi Indonesia Tumbuh, tapi Penduduk Miskin Makin Banyak Perbesar

Ekonomi Indonesia dilaporkan tumbuh rata-rata 5% selama tujuh tahun terakhir. Namun, di saat yang sama jumlah penduduk miskin justru bertambah dan kelas menengah menyusut. Presiden Prabowo Subianto heran akan anomali tersebut dan menyebut ada yang keliru dalam sistem ekonomi.

Presiden Prabowo mengatakan, secara logika kekayaan Indonesia seharusnya bertambah sekitar 35% dalam kurun tujuh tahun. Namun, data yang diterimanya setelah resmi menjabat presiden justru menunjukkan kondisi yang berbeda.

“Logikanya selama tujuh tahun Indonesia tambah kaya 35%, tapi kenyataannya, data ini muncul dua bulan setelah jadi presiden. Kenyataannya setelah tujuh tahun tumbuh 5%, masa penduduk miskin tambah?” ujar Prabowo dalam Penutupan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU yang disiarkan melalui YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (23/6/2026).

Menurutnya lagi, kejanggalan itu tidak hanya terlihat dari bertambahnya jumlah penduduk miskin. Kelompok kelas menengah yang sebelumnya berhasil keluar dari kemiskinan juga mengalami penyusutan.

“Negara tambah kaya rakyat miskin tambah. Ini kan sesuatu yang aneh, yang anomali, yang kelas menengah yang sudah tadinya lepas dari kemiskinan turun. Katanya negara tambah kaya 30% kok rakyat miskin tambah, kemudian kelas menengah berkurang,” tambah Prabowo.

Presiden Prabowo menilai kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa hasil pertumbuhan ekonomi lebih banyak dinikmati oleh segelintir orang. Karena itu, ia menegaskan perlunya membenahi sistem perekonomian yang dinilai belum mampu mendistribusikan manfaat pertumbuhan secara merata.

“Dan ini juga yang harus kita waspadai bahwa yang tambah kaya ternyata hanya segelintir orang. Jadi, harus kita lihat bahwa ini berarti sistem kita keliru, sistem ini keliru. Karena apa, kalau orang miskin tambah yang menengah juga berkurang berarti yang menikmati pertumbuhan ini hanya segelintir orang saja,” tegasnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rangkuman Kunjungan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto 26,27-28 Agustus 2026

29 Agustus 2026 - 11:17 WITA

Presiden Prabowo: Bagaimana Kita Punya Ratusan Helikopter kalau Tak Ada Uang? Korupsi Harus Diperangi

26 Agustus 2026 - 06:00 WITA

Presiden Prabowo Susuri Lahan Terbakar di Kubu Raya, Pastikan Penanganan Karhutla Berjalan Optimal

22 Agustus 2026 - 11:45 WITA

Fatimah Az-Zahra Sosok Kartini Masa Kini

20 Agustus 2026 - 15:02 WITA

Khidmat dan Penuh Makna, Presiden Prabowo Pimpin Upacara Detik-Detik Proklamasi di Istana Merdeka

17 Agustus 2026 - 11:29 WITA

Trending di Warta Nusantara