Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Serba Serbi

Kaltim lestarikan alat musik tradisional Sampe Dayak sebagai identitas bangsa

badge-check


					Kaltim lestarikan alat musik tradisional Sampe Dayak sebagai identitas bangsa Perbesar

Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur (Kaltim) terus berupaya merawat dan melestarikan alat musik tradisional sampe khas suku Dayak sebagai bagian penting dari identitas bangsa.

“Pelestarian Sampe tidak cukup hanya dengan memasukkannya ke dalam etalase museum, melainkan harus memastikan bahwa ekosistem budayanya tetap bernapas di tengah masyarakat,” ujar Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kaltim Lestari di Samarinda, Senin.

Menurut ia, alat musik petik yang memiliki keragaman nama seperti Sampek, Sape, Sampe, maupun Kecapi ini merekam jejak interaksi manusia dengan alam dan dinamika sosial.

“Lebih dari sekadar instrumen penghibur, Sampe yang terbuat dari kayu pilihan hutan Kalimantan ini memiliki relasi magis yang sangat kuat bagi peradaban masyarakat Dayak,” jelas dia.

Ia menjelaskan motif ragam hias pada tubuh kayu Sampe melambangkan daya upaya, kebesaran, serta keagungan masyarakat yang hidup harmonis dengan alam sekelilingnya.

Lestari mengingatkan ancaman terbesar pelestarian budaya ini justru sering kali datang dari pendekatan pelestarian yang kaku tanpa melibatkan partisipasi masyarakat akar rumput.

Oleh karena itu, lanjutnya, posisi pemerintah menjadi fasilitator yang mengakomodasi peran masyarakat dari bawah dalam pelestarian.

Masyarakat juga diimbau agar tidak terjebak pada sifat inersia yang berisiko memunculkan pengerasan identitas primordial sehingga mengancam integrasi sosial budaya di Indonesia.

Ia menegaskan kebudayaan yang berpadu dengan karya kreatif, seperti Sampe, bukanlah sekadar warisan masa lalu, melainkan proses transformasi yang bersifat dinamis.

“Pengarusutamaan kebudayaan tersebut harus ditanamkan secara sistemik sejak dini melalui jalur pendidikan agar perlindungan terhadap Sampe sejalan dengan pemanfaatan di masyarakat,” ungkap Lestari.

Dia menyatakan eksistensi ekosistem budaya Sampe harus terus ditegakkan melalui panggung perayaan adat yang sakral, ajang pariwisata daerah, hingga berbagai atraksi budaya populer kontemporer.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

18 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Juri Pencak Silat Dunia Apresiasi Atlet Tapak Suci SMP Muhammadiyah 2 Kroya

16 Oktober 2026 - 02:19 WITA

Panen Perdana AMA di Liagu, Petambak Masih Evaluasi Hasil Budidaya

14 Oktober 2026 - 05:47 WITA

Harga Pangan Hari Ini 12 Oktober: Beras Naik, Cabai Melonjak

12 Oktober 2026 - 05:11 WITA

Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

10 Oktober 2026 - 04:58 WITA

Trending di Serba Serbi