Pelajar Kelas XI SMA 3 Bahasa Putera Harapan Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Joseph Jefferson Setyako beserta lima rekannya menciptakan inovasi becak listrik berbasis energi surya sebagai upaya menghadirkan transportasi ramah lingkungan di era modern.
Becak listrik berbasis energi surya yang diberi nama E-Cak tersebut dipamerkan dalam ajang Forum Nasional Sekolah 3 Bahasa Se-Indonesia “Pendidikan Tanpa Perbedaan” di Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan (Puhua School), Purwokerto, Sabtu.

Ditemui di sela acara, Joseph mengatakan gagasan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap eksistensi becak tradisional yang mulai tertinggal di tengah perkembangan teknologi transportasi.
Melalui inovasi tersebut, ia ingin menghadirkan solusi yang tetap mempertahankan nilai transportasi rakyat namun lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Inovasi ini sebagai cara menjawab tantangan zaman, ketika perkembangan teknologi membuat becak tradisional bisa tertinggal. Karena itu kami mengembangkan becak berbasis listrik dan energi surya,” katanya menjelaskan.
Ia mengatakan total biaya pembuatan satu unit becak listrik tersebut berkisar antara Rp3 juta hingga Rp4 juta dan dikerjakan oleh tim yang terdiri atas enam siswa.
Dalam hal ini, becak listrik tersebut menggunakan dinamo sebagai penggerak utama yang dialiri energi listrik dari baterai.
Menurut dia, biaya pembuatan dinamo mencapai sekitar Rp600 ribu, sementara rangka dasar memanfaatkan becak bekas yang dibeli dari pengendara dengan harga sekitar Rp600 ribu.
Sumber daya utama menggunakan empat unit baterai jenis lead acid atau aki berbasis timbal dengan setiap unit baterai berkapasitas 12 volt dengan harga sekitar Rp240 ribu, sehingga total biaya baterai mencapai sekitar Rp1 juta.
“Kami menggunakan empat aki karena kebutuhan daya sekitar 48 volt. Sebenarnya ada opsi baterai lithium, tetapi karena keterbatasan biaya kami memilih aki yang lebih terjangkau,” katanya.
Selain baterai, kata dia, tim juga menambahkan panel surya sebagai sumber pengisian daya alternatif.
Komponen tersebut dipilih untuk mendukung konsep ramah lingkungan karena dapat memanfaatkan energi matahari.
“Panel surya ini sifatnya tambahan, untuk membantu proses pengisian daya agar lebih hemat dan lebih ramah lingkungan,” katanya.
Dari sisi performa, kata dia, becak listrik tersebut mampu menempuh jarak sekitar 10-15 kilometer dalam kondisi bermuatan penuh. Kecepatan maksimal yang dapat dicapai berkisar antara 30-40 kilometer per jam.
Sementara itu, kapasitas beban maksimal yang dapat ditopang mencapai sekitar 150 kilogram, termasuk pengendara dan penumpang.
Jika menggunakan listrik konvensional, waktu pengisian daya sekitar enam jam, sedangkan dengan panel surya membutuhkan waktu hingga sekitar 10 jam untuk mencapai 80 persen, tergantung intensitas sinar matahari.
Meskipun demikian, becak tersebut masih tetap bisa dikayuh ketika energi listriknya habis dan baterai belum terisi.
“Kami hanya punya waktu sekitar satu bulan untuk menyelesaikan proyek ini. Jadi setiap pulang sekolah langsung kami kerjakan bersama,” katanya.
Dalam proses pengembangan, kata dia, tim juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu riset dan perancangan, namun tetap melakukan pengecekan dan pengujian secara mandiri dalam praktiknya.
Joseph mengharapkan inovasi becak listrik berbasis energi surya tersebut dapat menjadi alternatif pengembangan transportasi ramah lingkungan sekaligus mendorong modernisasi kendaraan tradisional di Indonesia.
****









