Menu

Mode Gelap
Presiden Putin: Indonesia Mitra Paling Kunci bagi Rusia di Kawasan Asia Pasifik 12 Pasang Atlet TNI AU Siap Berjuang, Kobarkan Semangat Prestasi di Piala Panglima TNI 2026 Keluarga Jadi Kekuatan Suksesnya Pembudidaya Ikan Nila Lestari di Manganitu Presiden Prabowo Jadi Tamu Kehormatan Utama EEF ke-11 di Vladivostok Sherina Munaf Turun Tangan Bantu Padamkan Karhutla di Kalimantan Kisah Desa di Pekalongan yang Berdamai dengan Satwa Liar, Punya Aturan Larangan Berburu

Warta Parlemen

MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini

badge-check


					MPR: Komitmen bersama dibutuhkan demi wujudkan semangat Kartini Perbesar

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan komitmen bersama diperlukan sebagai upaya mewujudkan nilai-nilai yang diperjuangkan RA Kartini pada masa kini sebagai bagian penentu arah perjalanan bangsa.

Menurut dia, perempuan kini masih jauh dari semangat kebebasan berpikir seperti nilai-nilai yang dibawa RA Kartini. Maka dari itu, perlu komitmen bersama yang kuat agar mampu mewujudkan emansipasi perempuan di masa kini.

“Emansipasi itu bukan semata boleh belajar, tetapi juga harus mampu mengantarkan perempuan untuk mewujudkan cita-citanya,” kata Lestari di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Dia berpendapat bahwa pekerjaan rumah bagi seluruh pihak untuk mewujudkan nilai-nilai yang diperjuangkan RA Kartini masih sangat banyak.

Setiap momentum Hari Kartini, menurut dia, harus menjadi pengingat atas upaya apa saja yang telah dilakukan untuk mewujudkan semangat Kartini tersebut.

“Bagaimana kita secara bersama menemukan akar masalah yang mampu memangkas kesenjangan gender dan menentukan arah perjalanan bangsa secara bersama,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Umum Badan Pusat Wanita Taman Siswa Nyi Tri Yuliyanti Setyasari mengungkapkan bahwa emansipasi yang digagas RA Kartini sejatinya dilanjutkan oleh Nyi Hadjar Dewantara, istri pendiri Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara.

Organisasi Wanita Taman Siswa, menurut dia, didirikan pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta oleh Nyi Hadjar Dewantara. Dia mengatakan bahwa Nyi Hadjar juga berjuang di sektor pendidikan, terlebih lagi Taman Siswa disebut sebagai sekolah liar oleh penjajah Belanda.

“Nyi Hadjar Dewantara melawan penjajah Belanda melalui jalan pendidikan dan merupakan salah satu inisiator Kongres Perempuan pertama di Yogyakarta di tengah kungkungan sosial dari penjajah Belanda,” kata Tri Yulianti.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan

1 September 2026 - 05:23 WITA

DPR Janji Sahkan RUU Perampasan Aset Maksimal 15 Desember

28 Agustus 2026 - 04:55 WITA

Siti Fauziah Sebut LCC 4 Pilar MPR Jadi Ruang Bangun Persaudaraan

24 Agustus 2026 - 05:47 WITA

Dukung Guru PPPK Diangkat Jadi PNS, Ketua DPD RI: Fiskal Kita Cukup

21 Agustus 2026 - 05:35 WITA

Komisi III Kebut Pembahasan RUU Perampasan Aset, Targetkan Selesai Desember 2026

18 Agustus 2026 - 05:55 WITA

Trending di Warta Parlemen