Menu

Mode Gelap
Wamen Imipas Silmy Karim dan 7 Pejabat Imigrasi Ditahan KPK Kodaeral IX-Wanadri ekspedisi selam di Pulau Buru jaga ekosistem laut Titi DJ Buka Suara Usai Sebut Ada yang Lebih Bagus Nyanyikan ‘Sang Dewi’ dari Lyodra Puskesmas Tebing Tinggi Hadirkan Inovasi Cegah Penyakit Menular 3 Eks Pimpinan Lembaga BGN Ditetapkan Jadi Tersangka Terkait Perkara Penyimpangan Tata Kelola MBG Dari Ruang Kelas SMPN 111 Jakarta, Cita-Cita Besar Menggema di Hadapan Presiden Prabowo

Warta Utama

380 Ribu Ton Melayang, Produksi Beras RI Melemah, Panen Ikut Menyusut

badge-check


					380 Ribu Ton Melayang, Produksi Beras RI Melemah, Panen Ikut Menyusut Perbesar

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai 16,57 juta ton. Jumlah itu turun 380 ribu ton atau setara 2,22% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan potensi penurunan itu terjadi seiring melemahnya produksi padi (gabah) akibat penurunan luas panen pada awal tahun.

“Dengan demikian produksi beras sepanjang Januari-Mei 2026 diperkirakan mencapai 16,57 juta ton, atau mengalami penurunan sebesar 2,38 juta ton atau menurun 2,22% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2025,” kata Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026).

Secara rinci, BPS memperkirakan produksi padi (gabah kering giling/GKG) Januari-Mei 2026 mencapai 28,77 juta ton. Jumlah itu turun 2,22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada Februari 2026, sebenarnya produksi padi meningkat menjadi 5,05 juta ton GKG atau naik 27,41% secara tahunan. Hanya saja tren ke depan diperkirakan melemah sehingga menjadi faktor utama yang menekan produksi beras pada periode Januari-Mei 2026.

“Potensi produksi padi pada Maret-Mei 2026 diperkirakan sebesar 20,68 juta ton GKG atau menurun 11,12% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2025,” ungkap Ateng.

Penurunan produksi padi dan beras tidak terlepas dari dinamika luas panen padi. Potensi luas panen padi pada Januari-Mei 2026 diperkirakan mencapai 5,35 juta hektare (Ha) atau turun 2,35% secara tahunan.

“Tentunya angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada beberapa kondisi pertanaman sepanjang nanti pada Maret-Mei 2026. Contohnya ketika ada serangan hama atau organisme pengganggu tanaman, ketika nanti ada banjir, kekeringan, ketika misalnya waktu pelaksanaan panen oleh petani bergeser, maka ini tentunya akan mengalami perubahan potensi,” beber Ateng.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Ruang Kelas SMPN 111 Jakarta, Cita-Cita Besar Menggema di Hadapan Presiden Prabowo

3 Juni 2026 - 06:34 WITA

Alumnus Unair Berkarier Jadi Marine Biologist di Maldives

30 Mei 2026 - 01:39 WITA

Kisah Mauliyan dan Ariandi, Orangutan Kurus yang Bertahan di Tengah Krisis Habitat

29 Mei 2026 - 06:36 WITA

Kakek Mujiran di Lampung Ambil Sisa Getah di Kebun PTPN Berujung Dipenjara

25 Mei 2026 - 06:32 WITA

Perjuangan Suami Merawat Istri yang Mengidap Tuberkulosis Tulang

22 Mei 2026 - 07:14 WITA

Trending di Warta Utama