Menu

Mode Gelap
Lima Sila Pancasila Jadi Filosofi Pembangunan Gedung Mahkamah Agung di IKN Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan Mutasi Polri Agustus 2026, Kapolda dan Wakapoda Sulut serta Sejumlah Pejabat Utama Pindah Tugas hingga Promosi Jabatan Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali Kejagung Tampilkan Uang Sitaan Rp401 Miliar Kasus Nikel PT CNI

Warta Utama

Esti Ernawati Harus Makan Lewat Selang karena Penyakit Langka

badge-check


					Esti Ernawati Harus Makan Lewat Selang karena Penyakit Langka Perbesar

Unggahan konten milik Esti Ernawati (28) melalui akun Instagram @estyernawaty viral menjadi perbincangan. Melalui konten-kontennya, perempuan di Tasikmalaya, Jawa Barat ini menceritakan perjuangannya bertarung melawan kondisi akalasia, melemahnya kemampuan saraf kerongkongan untuk mendorong makanan.

Kondisi itu membuatnya hanya bisa makan lewat selang nasogastric tube (NGT) dengan makanan yang sudah dihaluskan. Esti menceritakan kejadiannya bermula di tahun 2019.

Pada saat itu ia mengalami gejala seperti sakit tenggorokan, asam lambung keluar secara berlebih, sulit menelan, hingga perih di lambung. Karena gejala tersebut, ia memutuskan untuk pergi ke salah satu rumah sakit di Tasikmalaya dan dokter menemukan ada penyempitan kerongkongan bagian bawah, sehingga makanan tidak bisa didorong ke lambung.

Pada saat itu, seharusnya ia menjalani rujukan di salah satu rumah sakit di Bandung, tapi perawatannya terhenti karena terkendala biaya.

“Karena orang tua saya tidak punya biaya untuk melanjutkan pengobatan karena saat itu biaya untuk berobat dari uang pribadi, karena saya belum punya BPJS kesehatan,” ungkap Esti, Minggu (29/3/2026).

Selama periode 2019-2022, Esti masih bisa makan secara langsung lewat mulut, tapi makanan perlu dihaluskan. Lama-kelamaan, bubur makanan yang dikonsumsi juga tidak bisa masuk.

Pada tahun 2024, kondisi Esti semakin drop karena asupan nutrisi yang kurang. Dokter akhirnya menyarankannya untuk menggunakan selang NGT agar tetap bisa memenuhi nutrisinya. Berat badan Esti saat itu sudah menyentuh angka 36 kg.

Lalu, ia akhirnya kembali dirujuk lagi ke sebuah rumah sakit di Bandung untuk menjalani prosedur endoscopic balloon dilation.

“Alhamdulillah saya bisa ditindak, tapi hasilnya tidak berhasil, karena saya masih belum bisa menelan makanan langsung ke lambung, ternyata saraf kerongkongan setelah dilatasi balon kembali ke semula mengerut dan menyempit,” ceritanya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Desil dan Dilema Bantuan Sosial: Ketika Data Tak Sesuai Kondisi Warga

26 Agustus 2026 - 05:54 WITA

Presiden Prabowo: Tingkatkan Layanan Dasar bagi Rakyat dari Puskesmas hingga Sekolah, Tak Boleh Ada Anak Belajar dalam Keadaan Lapar

14 Agustus 2026 - 11:13 WITA

Kisah Munawi di Lereng Bromo, Merangkak di Tebing dan Mengejar Api hingga Larut Malam

8 Agustus 2026 - 12:10 WITA

Dari Mimpi Gaji Puluhan Juta ke Neraka Scam, Kisah Pekerja Migran di Sumut Jadi Korban TPPO

5 Agustus 2026 - 04:18 WITA

Akad Massal 62.000 KPR, Presiden Prabowo Pastikan Pemerintah Terus Hadirkan Hasil Nyata bagi Rakyat

31 Juli 2026 - 05:21 WITA

Trending di Warta Utama