Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Tiba di Tanah Air Usai Rampungkan Kunjungan ke Jepang dan Republik Korea Kasus Rp83 M Terbongkar, 6 Terdakwa Korupsi Kolam Pelabuhan di Surabaya Disidang 380 Ribu Ton Melayang, Produksi Beras RI Melemah, Panen Ikut Menyusut Peringatan Dini Tsunami Dampak Gempabumi M7.6 di Malut Dinyatakan Berakhir, BMKG Pantau Kenaikan Muka Air di Beberapa Wilayah KPK geledah rumah Wakil Ketua DPRD Jabar Ono Surono TP-PKK Murung Raya Gelar Rapat Sinkronisasi Kegiatan Tahun 2026

Warta Utama

Esti Ernawati Harus Makan Lewat Selang karena Penyakit Langka

badge-check


					Esti Ernawati Harus Makan Lewat Selang karena Penyakit Langka Perbesar

Unggahan konten milik Esti Ernawati (28) melalui akun Instagram @estyernawaty viral menjadi perbincangan. Melalui konten-kontennya, perempuan di Tasikmalaya, Jawa Barat ini menceritakan perjuangannya bertarung melawan kondisi akalasia, melemahnya kemampuan saraf kerongkongan untuk mendorong makanan.

Kondisi itu membuatnya hanya bisa makan lewat selang nasogastric tube (NGT) dengan makanan yang sudah dihaluskan. Esti menceritakan kejadiannya bermula di tahun 2019.

Pada saat itu ia mengalami gejala seperti sakit tenggorokan, asam lambung keluar secara berlebih, sulit menelan, hingga perih di lambung. Karena gejala tersebut, ia memutuskan untuk pergi ke salah satu rumah sakit di Tasikmalaya dan dokter menemukan ada penyempitan kerongkongan bagian bawah, sehingga makanan tidak bisa didorong ke lambung.

Pada saat itu, seharusnya ia menjalani rujukan di salah satu rumah sakit di Bandung, tapi perawatannya terhenti karena terkendala biaya.

“Karena orang tua saya tidak punya biaya untuk melanjutkan pengobatan karena saat itu biaya untuk berobat dari uang pribadi, karena saya belum punya BPJS kesehatan,” ungkap Esti, Minggu (29/3/2026).

Selama periode 2019-2022, Esti masih bisa makan secara langsung lewat mulut, tapi makanan perlu dihaluskan. Lama-kelamaan, bubur makanan yang dikonsumsi juga tidak bisa masuk.

Pada tahun 2024, kondisi Esti semakin drop karena asupan nutrisi yang kurang. Dokter akhirnya menyarankannya untuk menggunakan selang NGT agar tetap bisa memenuhi nutrisinya. Berat badan Esti saat itu sudah menyentuh angka 36 kg.

Lalu, ia akhirnya kembali dirujuk lagi ke sebuah rumah sakit di Bandung untuk menjalani prosedur endoscopic balloon dilation.

“Alhamdulillah saya bisa ditindak, tapi hasilnya tidak berhasil, karena saya masih belum bisa menelan makanan langsung ke lambung, ternyata saraf kerongkongan setelah dilatasi balon kembali ke semula mengerut dan menyempit,” ceritanya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

380 Ribu Ton Melayang, Produksi Beras RI Melemah, Panen Ikut Menyusut

2 April 2026 - 09:43 WITA

Siswi SMAN CMBBS Lelang Lukisan Ikan Koi, Disumbangkan Warga Miskin

1 April 2026 - 03:11 WITA

Bocah Ternate Di-bully karena Berbicara Bahasa Inggris, Gubernur Sherly Ajak Bertemu dan Beri Dukungan

29 Maret 2026 - 04:53 WITA

Film ‘Emmy’ Angkat Kisah Perawat Pejuang dari Sulawesi, Emmy Silaen

28 Maret 2026 - 03:43 WITA

Kunjungan Mendadak Presiden Prabowo di Senen, Tangis Haru dan Harapan Warga Pecah di Bantaran Rel

27 Maret 2026 - 05:00 WITA

Trending di Warta Utama