Menu

Mode Gelap
Wamen Imipas Silmy Karim dan 7 Pejabat Imigrasi Ditahan KPK Kodaeral IX-Wanadri ekspedisi selam di Pulau Buru jaga ekosistem laut Titi DJ Buka Suara Usai Sebut Ada yang Lebih Bagus Nyanyikan ‘Sang Dewi’ dari Lyodra Puskesmas Tebing Tinggi Hadirkan Inovasi Cegah Penyakit Menular 3 Eks Pimpinan Lembaga BGN Ditetapkan Jadi Tersangka Terkait Perkara Penyimpangan Tata Kelola MBG Dari Ruang Kelas SMPN 111 Jakarta, Cita-Cita Besar Menggema di Hadapan Presiden Prabowo

Warta Utama

Esti Ernawati Harus Makan Lewat Selang karena Penyakit Langka

badge-check


					Esti Ernawati Harus Makan Lewat Selang karena Penyakit Langka Perbesar

Unggahan konten milik Esti Ernawati (28) melalui akun Instagram @estyernawaty viral menjadi perbincangan. Melalui konten-kontennya, perempuan di Tasikmalaya, Jawa Barat ini menceritakan perjuangannya bertarung melawan kondisi akalasia, melemahnya kemampuan saraf kerongkongan untuk mendorong makanan.

Kondisi itu membuatnya hanya bisa makan lewat selang nasogastric tube (NGT) dengan makanan yang sudah dihaluskan. Esti menceritakan kejadiannya bermula di tahun 2019.

Pada saat itu ia mengalami gejala seperti sakit tenggorokan, asam lambung keluar secara berlebih, sulit menelan, hingga perih di lambung. Karena gejala tersebut, ia memutuskan untuk pergi ke salah satu rumah sakit di Tasikmalaya dan dokter menemukan ada penyempitan kerongkongan bagian bawah, sehingga makanan tidak bisa didorong ke lambung.

Pada saat itu, seharusnya ia menjalani rujukan di salah satu rumah sakit di Bandung, tapi perawatannya terhenti karena terkendala biaya.

“Karena orang tua saya tidak punya biaya untuk melanjutkan pengobatan karena saat itu biaya untuk berobat dari uang pribadi, karena saya belum punya BPJS kesehatan,” ungkap Esti, Minggu (29/3/2026).

Selama periode 2019-2022, Esti masih bisa makan secara langsung lewat mulut, tapi makanan perlu dihaluskan. Lama-kelamaan, bubur makanan yang dikonsumsi juga tidak bisa masuk.

Pada tahun 2024, kondisi Esti semakin drop karena asupan nutrisi yang kurang. Dokter akhirnya menyarankannya untuk menggunakan selang NGT agar tetap bisa memenuhi nutrisinya. Berat badan Esti saat itu sudah menyentuh angka 36 kg.

Lalu, ia akhirnya kembali dirujuk lagi ke sebuah rumah sakit di Bandung untuk menjalani prosedur endoscopic balloon dilation.

“Alhamdulillah saya bisa ditindak, tapi hasilnya tidak berhasil, karena saya masih belum bisa menelan makanan langsung ke lambung, ternyata saraf kerongkongan setelah dilatasi balon kembali ke semula mengerut dan menyempit,” ceritanya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Ruang Kelas SMPN 111 Jakarta, Cita-Cita Besar Menggema di Hadapan Presiden Prabowo

3 Juni 2026 - 06:34 WITA

Alumnus Unair Berkarier Jadi Marine Biologist di Maldives

30 Mei 2026 - 01:39 WITA

Kisah Mauliyan dan Ariandi, Orangutan Kurus yang Bertahan di Tengah Krisis Habitat

29 Mei 2026 - 06:36 WITA

Kakek Mujiran di Lampung Ambil Sisa Getah di Kebun PTPN Berujung Dipenjara

25 Mei 2026 - 06:32 WITA

Perjuangan Suami Merawat Istri yang Mengidap Tuberkulosis Tulang

22 Mei 2026 - 07:14 WITA

Trending di Warta Utama