Menu

Mode Gelap
Lima Sila Pancasila Jadi Filosofi Pembangunan Gedung Mahkamah Agung di IKN Anggaran Kementerian di Kanwil Kemenag Kalteng dan Universitas Palangkaraya Terindikasi Dikorupsi Dari Tambling, Titiek Soeharto Dorong Kolaborasi Sains dan Alam untuk Konservasi Masa Depan Mutasi Polri Agustus 2026, Kapolda dan Wakapoda Sulut serta Sejumlah Pejabat Utama Pindah Tugas hingga Promosi Jabatan Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali Kejagung Tampilkan Uang Sitaan Rp401 Miliar Kasus Nikel PT CNI

Warta Entertainment

Dari Keheningan Menjadi Harmoni, Kisah Inspiratif Musikal Jemari

badge-check


					Dari Keheningan Menjadi Harmoni, Kisah Inspiratif Musikal Jemari Perbesar

Pertunjukan musikal tuli bertajuk Jemari berhasil memukau penonton saat digelar pada 3–7 Desember 2025 di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan. Sajian yang memadukan bahasa isyarat, musik, gerak, dan teater ini dihadirkan untuk merayakan Hari Disabilitas Internasional.

Produser musikal Jemari, Pascal Meliala, mengatakan pertunjukan tersebut bukan sekadar karya seni, tetapi ruang yang menunjukkan bahwa semua orang memiliki tempat yang sama di panggung seni maupun dalam kehidupan.

“Di Hari Disabilitas Internasional, kita diingatkan bahwa inklusivitas bukan soal memberi ruang kepada mereka yang berbeda. Karena memberi ruang berarti ruang itu milik kita, dan orang lain hanya numpang lewat,” kata Pascal dalam keterangan tertulis, Dikutip Kamis, 11 Desember 2025.

Pascal menjelaskan antusiasme penonton dari berbagai latar belakang muncul karena kekompakan para pemain tuli yang mampu menyampaikan emosi melalui perpaduan musik dan bahasa isyarat. “Mereka memiliki panggung ini bersama kita, jadi tak ada pemisahan,” jelasnya.

Pascal menegaskan Jemari menjadi debut kolaborasi penuh antara dunia Dengar dan Tuli. Melalui pertemuan dua bahasa, panggung musikal ini membuktikan bahwa inklusi dapat diwujudkan secara nyata.

“Yang benar adalah membagi ruang. Ruang yang sama, ruang yang setara. Ruang tempat setiap orang berdiri sebagai manusia yang punya mimpi, suara, dan cara berbahasa yang berbeda, tapi sama berharganya,” ungkapnya.

Pertunjukan ini sekaligus menandai sejarah baru bagi komunitas Tuli di Indonesia, karena Jemari menjadi produksi musikal pertama berskala penuh yang digarap secara mandiri oleh komunitas Tuli.

“Pencapaian ini adalah tonggak penting dalam membangun ekosistem seni yang inklusif dan memberi ruang bagi pelaku seni Tuli untuk bersinar,” ungkap Pascal.

Sementara Pembina musikal Jemari, AKBP Muhammad Ardila Amry, menegaskan bahwa setiap talenta dapat berkembang jika diberikan kesempatan yang setara.

“Dengan akses yang tepat, lingkungan yang tepat, dan orang-orang yang tepat, maka setiap talenta dapat bersinar,” ucap Ardila.

Dia berharap kesadaran untuk membuka ruang bagi semua pihak dapat terus tumbuh. “Terima kasih untuk kesadarannya. Mari jadikan keberadaan kita lebih adil dan berarti bagi sesama,” bebernya.

Musikal Jemari sendiri mengangkat kisah tentang kehilangan, keberanian mencintai, dan keyakinan bahwa cinta yang tulus mampu melampaui perbedaan bahasa antara dunia Tuli dan Dengar.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Film “Lobang Buaya” dijadwalkan ditayangkan di bioskop mulai 1 Oktober 2026

29 Agustus 2026 - 11:12 WITA

Jadi Tersangka Kasus Narkoba, Artis Revaldo Dijerat Pasal Berlapis

26 Agustus 2026 - 05:58 WITA

Pameran Asrul Sani Telusuri Perjalanan Kreatif Maestro Film Indonesia

22 Agustus 2026 - 05:42 WITA

Ratna Sari Dewi Soekarno Hadiri HUT RI ke 81 di Istana Negara

20 Agustus 2026 - 05:12 WITA

Sejumlah Artis yang Hadir di Upacara Peringatan 17 Agustus 2026 Kemerdekaan HUT RI Ke-81

17 Agustus 2026 - 07:17 WITA

Trending di Warta Entertainment