Menu

Mode Gelap
Polemik Tutup-Buka Penyeberangan Perintis di NTT Prajurit Batalyon Hanud 11 Pasgat Laksanakan Lintas Medan Tingkatkan Ketangkasan dan Jiwa Korsa BMKG Ungkap Daftar 17 Wilayah Indonesia Berpotensi Hujan Hari Ini Begini Keseruan Ratusan Siswa SD Main Permainan Tradisional Heboh Bupati Lombok Barat Terjaring OTT KPK Setelah Nobar Piala Dunia Aksi Pemulung Ikut Tambal Jalan Rusak di Padang, Warga Mengaku Sudah Dua Wali Kota Tanpa Perbaikan

Serba Serbi

Natas Banyang Rangkaian Prosesi Pernikahan Adat Dayak Maanyan

badge-check


					Natas Banyang Rangkaian Prosesi Pernikahan Adat Dayak Maanyan Perbesar

Buntok, infokatulistiwanews.com – Indonesia dikenal memiliki keberagaman suku dan kebudayan. Setiap daerah memiliki latar belakang sosial, bahas, budaya dan tradisi yang dimiliki oleh masyarkat Indonesia. Menjadi kekayaan yang tidak terhitung nilainya yang harus terus dilestarikan, dikembangkan dan diperkenalkan diseluruh Indonesia maupun seluruh dunia.

Kebudayaan merupakan tradisi yang diwariskan oleh nenek monyang atau leluhur yang terdahulu yang terus diwariskan turun-temurun sebagai cerminan kehidupan masyarakat yang mengandung kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, serta kebiasaan-kebiasaan yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.

Setiap daerah tumbuh dan berkembang menjadi satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan antara manusia dan kebudayaan yang dianutnya menjadi sebuah ciri khas yang dapat kita kenal yang menjadikan cerminan sebagai khas budaya daerah yang memperkaya kebudayan nusantara.

Seperti pada upacara adat pernikahan Dayak Maanyan di Kabupaten Barito Selatan yang dinamakan upacara Natas banyang upacara ini, memiliki makna setiap tahapan pada proses upacara dan memilik simbol-simbol yang terkandung dalam upacara Natas banyang. Adat istiadat dari budaya Dayak Maanyan yang diwariskan dari nenek monyang atau leluhur yang terdahulu yang terus dikembangkam hingga saat ini yang yang menjadi ciri khas pada upacara pernikahan Dayak Maanyan.

Natas banyang artinya Natas adalah memutus atau memotong sedangkan banyang perintang dibuat didepan rumah pengantin perempuan pada upacara pernikahan adat Dayak Maanyan yang membatasi antara keluarga penganti pria dan keluarga pengantin perempuan yang dihalangi oleh dua tebu yang dibuat horizontal dan dihiasi dengan janur, bermacammacam buah, bahalai, piring, lading dan piduduk yang diletakkan pada samping pagar merupakan syarat dari ritual upacara natas banyang agar tidak membawa kesialan, malapetaka dan musibah.

Rombongan keluarga pria dan pengantin pria berjalan menuju rumah pengantin perempuan bersama dengan Wadian Bawo. Sesampai didepan rumah pengantin perempuan, pengantin pria berserta keluarganya dan wadian bawo posisi berada diluar banyang. Sedangkan posisi keluarga pengantin perempuan didalam banyang dengan Wadian Dadas.

Wadian Bawo dan Wadian Dadas menari-nari menyambut kedatangan rombongan pengantian pria. wadian bawo memuji-muji pengantin pria didepan keluarga pengantin perempuan. Dua orang yang diutus ketempat perempuan untuk memberitahunkan bahwa pengantin pria berserta keluarganya diperbolehkan masuk atau tidak.

Sebelum dipersilahkan masuk, keluarga pengantin wanita mempertanyakan maksud dan tujuan rombongan keluarga pria. Selaian mempertanyakan kabar dan tujuan kedatangan, kedua belah pihak berbalasan menyanyikan tumet leut secara bergantian dan juga berbalasan pantun secara begantian menggunakan bahasa Dayak Maanyan.

Kedua belah pihak berbincang-bincang bersama karena seorang pria ini mendambakan perempuan yang ada dirumah ini. Apakah keluarga perempuan menerima kehadiran keluarga pria ini atau tidak. Pihak keluarga perempuan menyuguhkan minum tuak kepada keluarga pria yang hadir kerumah perempuan.

Pembicaraan mendapatkan titik terang dari tujuan kedatangan keluarga pria ke rumah perempuan. Mulailah mereka memikirkan membuka pembatas antara kedua belah pihak pria dan pihak perempuan. Pihak keluarga perempuan mengambil Air suci (ranu babuang tatungkal) yang telah di doakan dipercikan kebanyang untuk membersikan halhal yang tidak baik.

Keluarga perempuan mengeluarkan mandau dari sarung menggunakan pinai mandau. Pemotongan banyang dilakukan secara bergantian, yang dimulai oleh pihak perempuan selanjutnya dipotong oleh pihak pria. Mantir Adat pihak perempuan memotong banyang paling bawah mandau dipegang dengan tangan kiri setelah itu dihitung 1.2.3.4.5.6.7.

Setelah mantir adat menabur beras, banyang masih belum terpotong, hitungan selanjutnya 1.2.3.4.5.6.8. Banyang terpotong tanda tamu diperbolehkan masuk. Setelah banyang palinng bawah terpotong oleh pihak perempuan, pihak perempuan memberi Mandau kepada pihak pria.

Hitungan ketiga dhitung oleh mantir adat dari pihak pria 1.2.3.4.5.6.8.9.10. merupakan hitungan penuh yang merupakan pekerjakan yang telah kita lakukan selama satu hari ini telah selesai. Setelah banyang terpotong maka para keluarga pria diperbolehkan masuk ketempat yang telah disedikan oleh pihak keluarga perempuan.

Pewarta: Benny Anggara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Begini Keseruan Ratusan Siswa SD Main Permainan Tradisional

22 Juli 2026 - 07:43 WITA

JARR Milik Haji Isam Akui Beli CPO Sitaan Kejaksaan Agung

20 Juli 2026 - 06:27 WITA

Kurangi Ketergantungan Gawai, KKN Unhas Edukasi Siswa SD Permainan Tradisional di Bone

19 Juli 2026 - 06:10 WITA

Pembangunan Tahap II IKN Terus Berjalan, Otorita IKN Lakukan Evaluasi Berkala

17 Juli 2026 - 06:02 WITA

Wimbledon Jadi Bekal Berharga Petenis Muda Indonesia Ethan Jake Frans

14 Juli 2026 - 06:44 WITA

Trending di Serba Serbi