Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Tekankan Perlindungan Kekayaan Negara dalam Penyempurnaan Aturan Korupsi Dari Kebun Kelengkeng hingga Kandang Ayam, Titiek Soeharto Dorong Penguatan Ekonomi Warga Margorejo Tak Sekadar Jaga Keamanan, Polri Ajak Pelajar Peduli Pendidikan dan Lingkungan Pawai Budaya 38 Provinsi Meriahkan Festival Negeri Kami 2026 KPK Kembali Panggil Satu Tersangka Korupsi Proyek Jalan BBPJN Sumut Menteri PPPA: Setiap Anak Berhak Dapat Pengasuhan yang Aman

Serba Serbi

BRI Peduli Ajak Generasi Muda Jaga Ekosistem Sungai

badge-check


					BRI Peduli Ajak Generasi Muda Jaga Ekosistem Sungai Perbesar

Memaknai Hari Sungai Sedunia, BRI Peduli melalui Program “Jaga Sungai, Jaga Kehidupan” mengajak generasi muda melaksanakan aktivasi bersih-bersih sungai dan edukasi lingkungan di Tukad Badung yang terletak di Desa Pemogan, Denpasar Selatan, Provinsi Bali.

Tidak hanya fokus pada pembersihan Tukad Badung yang berada di kawasan konservasi mangrove Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai Bali, dalam kegiatan ini juga dilakukan edukasi kebersihan dan pemasangan penghalang sampah (Trash Barriers) guna mencegah masuknya kembali sampah ke aliran sungai.

Terkait hal itu, Corporate Secretary BRI Dhanny menyampaikan, memperingati Hari Sungai Sedunia bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, namun menjadi titik balik membangun kesadaran kolektif terutama bagi generasi muda.

“Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi timbunan sampah di aliran sungai, tetapi juga untuk membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian sumberdaya alam,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Minggu (28/9/2025).

Selain itu, lanjut dia, edukasi pilah sampah menjadi langkah penting dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sungai. Sampah organik yang sudah dipilah bisa dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat seperti bahan pupuk kompos, tambahan pakan ternak, urban farming, bahkan bisa diolah menjadi biogas. Sedangkan sampah anorganik akan dicacah menggunakan alat pencacah sampah dan hasilnya dijual ke pengepul sampah.

Di sisi lain, Dhanny menjelaskan, Program BRI Peduli “Jaga Sungai Jaga Kehidupan” telah dilaksanakan sejak 2020 dan telah merevitalisasi lebih dari 100 sungai di berbagai daerah di Indonesia. Sungai-sungai tersebut secara rutin juga dibersihkan melalui pemberdayaan masyarakat berbasis padat karya.

Dalam pelaksanaannya, BRI juga menggandeng Yayasan Sungai Watch Indonesia yang merupakan organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk melindungi dan menjaga kebersihan sungai-sungai di Indonesia dari pencemaran, terutama sampah plastik.

Kolaborasi antara BRI dan Sungai Watch sejak awal 2025 mencatat beberapa pencapaian, diantaranya berhasil memasang 18 trash barrier di Tukad Badung Denpasar dan berhasil mengumpulkan 64.480 kg sampah anorganik. Kegiatan pengumpulan dan pembersihan yang dilakukan di Sungai tersebut telah melibatkan 2.221 warga maupun relawan dan menghasilkan potensi reduksi karbon 193.27 Ton CO2e.

Sejak didirikan di tahun 2020, Sungai Watch telah berupaya memasang 381 trash barrier di 11 wilayah di Indonesia. Dengan pendekatan berbasis komunitas, Sungai Watch bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk tidak hanya membersihkan sungai, tetapi juga mengedukasi pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan serta pemberdayaan berbasis padat karya.

“Melalui momentum Hari Sungai Sedunia, BRI menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan melalui program-program nyata yang melibatkan generasi muda dan masyarakat. BRI percaya, sungai yang bersih dan terjaga akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang sekaligus fondasi penting dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” tandas dia.

Berbagai ancaman yang dihadapi ekosistem sungai antara lain:

1. Pencemaran Air: Limbah industri, limbah domestik, dan penggunaan pestisida dalam pertanian menyebabkan pencemaran air. Ini mengakibatkan kualitas air menurun dan memengaruhi kehidupan biota di dalamnya.

2. Penebangan Hutan: Penebangan hutan di sekitar aliran sungai dapat memperburuk erosi tanah, mengurangi kualitas air, dan menghilangkan habitat bagi spesies lokal.

3. Pembangunan Infrastruktur: Proyek pembangunan seperti bendungan dan jalan dapat mengubah aliran alami sungai, menyebabkan banjir, dan menghancurkan ekosistem.

4. Perubahan Iklim: Perubahan iklim mengakibatkan perubahan pola curah hujan yang dapat mempengaruhi aliran sungai dan meningkatkan risiko pencemaran.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Minahasa hingga Papua, Budaya Daerah Tampil di Festival Indonesia 2026

26 Oktober 2026 - 10:25 WITA

Lebihi Target di Asian Para Games 2026, Kontingen Indonesia Siap Tatap ASEAN Para Games 2027 dan Paralimpiade 2028

24 Oktober 2026 - 09:56 WITA

BMKG: Keindahan Hunter’s Moon pada 26 Oktober 2026

23 Oktober 2026 - 04:17 WITA

Lestarikan Budaya, PORTINA Sulut Latih Pelatih Olahraga Tradisional

21 Oktober 2026 - 02:27 WITA

Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

18 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Trending di Serba Serbi