Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Internasional

Turis Israel Ketakutan Liburan ke Luar Negeri

badge-check


					Turis Israel Ketakutan Liburan ke Luar Negeri Perbesar

Menurut hasil jajak pendapat, orang-orang Israel ternyata merasa ketakutan ketika pergi liburan ke luar negeri. Apa penyebabnya?

Dilansir dari Times of Israel, Minggu (18/8/2025), menurut jajak pendapat yang disiarkan oleh Channel 12, sebanyak 56 persen warga Israel menyatakan takut bepergian ke luar negeri, karena meningkatnya kritik dunia internasional terhadap kebijakan Israel terkait perang di Jalur Gaza.

Sedangkan, 40 persen responden mengatakan mereka tidak takut akan potensi insiden saat bepergian ke luar negeri. Sementara 4 persen responden lainnya mengaku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu.

Selama beberapa pekan terakhir, turis Israel telah mengalami beberapa insiden anti-Israel, termasuk serangan dan protes dari warga lokal.

Pekan lalu, seorang turis Israel mengatakan seorang pria menggigit sebagian telinganya di pantai Athena setelah berteriak, “Bebaskan Palestina, fuck Israel, saya Hamas.”

Serangan itu diduga terjadi beberapa hari setelah sekelompok remaja Israel diserang oleh sekelompok penyerang anti-Israel saat berlibur di Pulau Rhodes, Yunani.

Ada juga peristiwa kapal pesiar milik orang Israel yang dilarang untuk berlabuh di Pulau Syros, Yunani. Kapal pesiar itu malah dialihkan ke Siprus, karena adanya protes besar-besaran anti-Israel dan pro-Palestina di pelabuhan tersebut.

Jajak pendapat Channel 12 juga menunjukkan bahwa 67 persen responden merasa kebijakan pemerintah Israel tidak mewakili kehendak mereka. Hanya 29 persen responden yang mengatakan pemerintah mewakili mereka.

Bahkan di antara pemilih Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, 44 persen responden mengatakan kebijakan pemerintah Israel tidak mewakili kehendak mereka, dibandingkan dengan 51 persen yang mengatakan sebaliknya.

Mengenai masalah sandera dan perang di Gaza, 62 persen responden mengatakan pemerintah Israel harus mempromosikan kesepakatan komprehensif untuk memulangkan semua tawanan yang ditahan di Jalur Gaza.

Sementara itu, 28 persen responden mengatakan mereka mendukung intensifnya operasi militer yang dilakukan Israel dan mendukung Israel untuk menduduki seluruh wilayah kantung Palestina.

Hanya 4 persen responden yang mendukung kesepakatan parsial untuk membebaskan setengah dari sandera yang masih hidup, maupun yang sudah meninggal.

Selain itu, 49 persen responden menentang pendirian pemukiman di Gaza, sementara 36 persen mendukung pemukiman, dan 15 persen mengaku tidak tahu.

Ketika diminta menilai kinerja Benjamin Netanyahu sebagai perdana menteri, sebanyak 55 persen responden mengatakan kinerjanya buruk. Hanya 39 persen yang mengatakan kinerjanya Netanyahu baik.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Singapura Layangkan Peringatan ke 7 Perusahaan Indonesia Terkait Kabut Asap

17 Oktober 2026 - 03:38 WITA

RI Dorong ACAFTA Buka Peluang Ekonomi bagi UMKM

15 Oktober 2026 - 06:45 WITA

PBB Desak Investigasi Serangan Terhadap Bandara Internasional Riyadh

13 Oktober 2026 - 04:33 WITA

Indonesia Juara Umum Kompetisi Olahraga-Budaya ISCG 2026 di Pakistan

10 Oktober 2026 - 05:03 WITA

Bos IMF Ngomel ke Negara-Negara Maju, Utang Dunia Bakal 100% PDB

8 Oktober 2026 - 05:21 WITA

Trending di Warta Internasional