Sudah tiga tahun Zakiyah Fitri bersama Farid menjadi instruktur jahit di Rumah Anak Prestasi (RAP) Surabaya.
Di sana dia mengajar teman-teman disabilitas, dengan berbagai macam kebutuhan khusus. Seperti slow leaner, tunagrahita, hingga autisme.

Sehari-hari mereka diberi pelatihan menjahit kain berpola, menggunakan mesin, hingga membuatnya menjadi berbagai bentuk seperti pakaian maupun pouch.
Bahan-bahan yang digunakan bervariasi, salah satunya bekas linen sprei hotel yang dibuat menjadi berbagai bentuk produk jahit, seperti kaus kaki ornamen Natal.
“Yang terlibat untuk jahit ada slow learner, tuna rungu, banyaknya slow learner, tunagrahita, autisme. Slow learner karakter anaknya lamban dalam menerima, tapi dia bisa diarahkan dengan misal kain kami pola dulu, nah dia menjahit dengan pola yang sudah dibuat,” sebut Zakiyah Fitri kepada SURYA.co.id di Ciputra World Surabaya, Jumat (5/12/2025).
Potensi Anak
Kegiatan menjahit salah satu program untuk mewadahi unjuk bakat dan potensi anak.
Selain mumpuni secara keilmuan bidang, instruktur seperti Fitri, juga harus memiliki kelapangan hati.
Lewat melatih jahit anak-anak disabilitas, Alumnus Sekolah Fashion Designer di LPTB Suzan Budhiharjo itu merasa belajar psikologi.
Kehadirannya tak hanya hubungan guru dan murid, tetapi teman komunikasi.
“Kami memperlakukan mereka bukan hanya murid tapi teman, membuat nyaman mereka, menjadikan mereka teman kita, memberikan apresiasi dan membuat mereka senang belajar, tentunya setiap anak punya pendekatan berbeda dan karakter masing-masing unik,” sebutnya.
Kebersamaan itu membuat Fitri banyak belajar tentang karakter masing-masing, dalam komunikasi maupun emosional.
“Jadi kami sebagai instruktur harus tahu bagaimana ketika mereka tidak mood, marah, apa yang membuat dia marah, kita harus peka. Turut mengenali karakter psikologi anak anak, secara otomatis belajar psikolog,” sebut Alumnus Ekonomi Pembangunan, UPN Veteran Surabaya.
Hal ini juga mempengaruhi pola pelatihan yang diberikan saat menjahit.
Saat memulai belajar jahit, masing-masing dari mereka diberi kain dengan pola lurus maupun melengkung sebagai bahan ajar.
Tak hanya soal teknik, Fitri mengaku bahwa hal terpenting adalah membuat anak-anak merasa senang berada di ruang pembelajaran.
Dari situ, mereka mulai tertarik menggunakan mesin jahit hingga akhirnya mampu membuat produk.
“Bagaimana mereka bisa enjoy di ruang menjahit sebelum mereka benar-benar bisa. Kalau mereka sudah percaya diri, tertarik, dan mau mencoba, itu sudah perkembangan yang sangat bagus bagi mereka, dan kami sebagai instruktur tentu bangga sekali,” ungkapnya.
Perempuan kelahiran 1981 itu menambahkan bahwa ia selalu berusaha menciptakan suasana menyenangkan, sehingga kelas menjahit menjadi sesi yang paling dinantikan anak-anak.
Membangun kedekatan dan menciptakan rasa nyaman menjadi hal penting, dan ini bisa dilakukan oleh siapa saja ketika berkomunikasi dengan teman-teman disabilitas.
Menurutnya, anak-anak dengan disabilitas sangat peka membaca mimik dan ekspresi wajah.
Ketika ada tamu datang ke RAP, mereka terlihat sangat antusias, senang bertemu orang baru, berkomunikasi, dan tersenyum.
“Bahasa wajah sangat dapat mereka pahami. Kalau ekspresi kita tidak tersenyum, kadang mereka mengira kita marah. Karena saya pernah dianggap marah hanya karena tidak tersenyum, saya pun harus belajar mengendalikan ekspresi,” ujarnya.
****









