Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Internasional

Bos IMF Ngomel ke Negara-Negara Maju, Utang Dunia Bakal 100% PDB

badge-check


					Oplus_0 Perbesar

Oplus_0

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan, utang publik di berbagai negara berpotensi melampaui 100% dari produk domestik bruto (PDB).

Untuk negara-negara maju, bila ditambah memperhitungkan Amerika Serikat, tingkat utang publik yang ditacatat IMF hampir mencapai 120% PDB, sedangkan bila tidak memperhitungkan fiskal AS, tingkat utang publik nya masih di bawah 100%.

“Utang publik global mendekati level tertinggi sejak setelah Perang Dunia II dan diperkirakan akan segera melampaui 100 persen dari PDB,” kata Kristalina dalam agenda Outlook For The Global Economy and Policy Priorities jelang Annual Meeting IMF-World Bank 2026, dikutip Kamis (8/10/2026).

Secara terbuka, Kristalina menyebut negara-negara maju merupakan pelaku terburuk yang menyebabkan utang publik secara bruto menjadi makin tinggi. Rasio utang terhadap PDB untuk kelompok negara berkembang maupun pendapatan rendah masih cukup rendah.

Dalam data Kristalina, tingkat utang pemerintah terhadap PDB di negara-negara berkembang atau emerging markets hanya di kisaran 80%, dan bila dikeluarkan China dalam list nya hanya setara 60% PDB. Sementara itu, low income developing countries di kisaran bawah 40%.

“Negara-negara maju adalah pelaku terburuk dengan beban utang bruto tertinggi. Rasio utang terhadap PDB umumnya lebih rendah untuk pasar negara berkembang dan bahkan lebih rendah lagi untuk negara-negara berpendapatan rendah,” ungkapnya.

Kristalina mengatakan, risiko pembayaran biaya utang juga akan semakin tinggi ke depannya, setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS, Jerman, dan Jepang bertenor 10 tahun kini berada pada level tertinggi sejak 2007, 2009, dan 1996, dan masih terus meningkat.

“Bagi negara-negara dengan utang tinggi di zona euro, situasinya lebih menantang karena selisih imbal hasil obligasi terhadap obligasi pemerintah Jerman terus meningkat-tidak hanya untuk Prancis dan Italia, tetapi juga, dalam skala yang lebih kecil, untuk Irlandia, Portugal, dan negara-negara lain yang berhasil mengurangi utang dan defisit mereka setelah krisis zona euro,” ucapnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Singapura Layangkan Peringatan ke 7 Perusahaan Indonesia Terkait Kabut Asap

17 Oktober 2026 - 03:38 WITA

RI Dorong ACAFTA Buka Peluang Ekonomi bagi UMKM

15 Oktober 2026 - 06:45 WITA

PBB Desak Investigasi Serangan Terhadap Bandara Internasional Riyadh

13 Oktober 2026 - 04:33 WITA

Indonesia Juara Umum Kompetisi Olahraga-Budaya ISCG 2026 di Pakistan

10 Oktober 2026 - 05:03 WITA

Pesawat Militer Nigeria Jatuh, 32 Orang Tewas

6 Oktober 2026 - 05:01 WITA

Trending di Warta Internasional