Pelaku usaha kerajinan noken dan aksesori khas Papua, Yutinus Kobak, terus mengembangkan usahanya dengan membina sekitar 160 kelompok pengrajin.
Melalui usaha tersebut, Yutinus tidak hanya memasarkan produk lokal, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari hasil kerajinan tangan.

Hal tersebut disampaikan pada Festival dan Bazar UMKM yang digelar Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam rangka memperingati HUT ke-30 Kabupaten Mimika.
Kegiatan yang mengusung tema “UMKM Tumbuh, Mimika Berinovasi Menuju Gerbang Emas” tersebut berlangsung selama tiga hari, 6-8 Oktober 2026, di halaman Gedung Eme Neme Yauware, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Yutinus mengatakan, noken, gelang, kalung hingga berbagai aksesori berbahan lokal yang diproduksi kelompok binaannya menjadi sumber pendapatan bagi banyak keluarga.
Ia pun mendorong agar produk kerajinan lokal tidak hanya dipajang dalam kegiatan pameran, tetapi dibeli masyarakat sehingga manfaat ekonominya dapat langsung dirasakan para pengrajin.
Festival dan bazar ini diikuti sekitar 200 pelaku UMKM yang menampilkan beragam produk unggulan, mulai dari makanan dan minuman, produk olahan, kerajinan tangan, produk kreatif hingga berbagai produk khas Papua.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi produk lokal, tetapi juga menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk memperluas pemasaran sekaligus mendorong peningkatan perekonomian masyarakat.
Yutinus mengapresiasi pelaksanaan Festival dan Bazar UMKM yang dinilainya memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan hasil karya mereka.
Menurut Yutinus, dukungan pemerintah terhadap pelaku UMKM perlu diarahkan tidak hanya pada penyediaan tempat pameran, tetapi juga mendorong masyarakat untuk membeli produk yang dihasilkan pelaku usaha lokal.
“Jangan hanya dijadikan pajangan. Produk yang kami hasilkan harus dibeli sehingga bisa memberikan kontribusi untuk meningkatkan perekonomian keluarga dan membangun kemandirian masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, usaha kerajinan yang digelutinya turut melibatkan banyak masyarakat, khususnya pengrajin yang memproduksi noken, gelang, kalung, topi dan berbagai aksesori lainnya.
Menurutnya, ketika produk kerajinan tersebut terjual, pengrajin dapat langsung memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membayar biaya sekolah anak.
Yutinus mengatakan produk yang dipamerkan dalam kegiatan tersebut seluruhnya menggunakan bahan lokal.
Harga produk yang dijual bervariasi, mulai dari Rp10 ribu hingga mencapai Rp15 juta untuk produk tertentu, termasuk pakaian berbahan noken.
“Di ruko saya ada tujuh orang karyawan yang bekerja. Selain itu, ada sekitar 160 kelompok yang saya bina, mulai dari kelompok pembuat noken, kalung, gelang dan kerajinan lainnya,” katanya.
Usaha tersebut telah dirintis sejak 2009 dengan tujuan membina dan memfasilitasi orang asli Papua dalam mengembangkan kerajinan tangan sekaligus menyediakan akses pemasaran.
Kelompok-kelompok binaannya memproduksi berbagai kerajinan, kemudian hasil karya tersebut dibeli dan dipasarkan kembali melalui tempat usaha miliknya maupun bekerja sama dengan pengusaha lain.
“Kami menyiapkan tempat pemasaran. Kelompok yang kami bina membawa hasil karya, kemudian saya beli dan pasarkan. Kami juga bekerja sama dengan pengusaha lain yang bergerak di bidang yang sama,” ujarnya.
Dalam Festival dan Bazar UMKM Mimika kali ini, Yutinus mengaku menjadi salah satu pelaku usaha yang baru pertama kali mengikuti kegiatan tersebut.
Ia datang dari Wamena dengan membawa berbagai produk kerajinan untuk diperkenalkan kepada masyarakat Mimika.
“Saya datang dari Wamena menggunakan Hercules. Ini pertama kali saya mengikuti kegiatan UMKM seperti ini. Sebelumnya kami sudah berkomunikasi dengan panitia dan mendapat informasi bahwa tempat akan disiapkan,” katanya.
Selain Mimika, produk kerajinan yang dikembangkannya juga telah memiliki jaringan pemasaran di sejumlah daerah, di antaranya Paniai, Nabire, Jayapura, Merauke hingga Manokwari.
Bahan kerajinan yang digunakan pun berasal dari alam dan bahan lokal, seperti akar dan rumput yang kemudian diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Yutinus berharap kegiatan seperti Festival dan Bazar UMKM dapat terus digelar dan memberikan kesempatan lebih luas kepada pelaku usaha untuk memasarkan produk sekaligus memperluas jaringan pasar.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan karena sangat membantu pelaku UMKM dalam mempromosikan hasil karya dan membuka pasar,” pungkasnya.
****









