Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Warta Parlemen

Wakil Ketua MPR-RI: Jangan Biarkan Perajin Budaya Menghilang

badge-check


					Wakil Ketua MPR-RI: Jangan Biarkan Perajin Budaya Menghilang Perbesar

Jakarta, infokatulistiwanews.com – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, memperingatkan bahwa gagasan circular cultural economy (CCE) yang tengah digadang pemerintah berisiko berhenti sebagai wacana jika tidak dibarengi perlindungan nyata bagi para penjaga warisan budaya.

Ia menilai CCE tidak bisa dibangun secara instan, melainkan harus dimulai dari unit paling dasar: keluarga dan komunitas desa.

“Ekonomi budaya sirkular tidak bisa dibangun secara melompat-lompat. Harus ada tahapan yang terukur, dimulai dari unit paling dasar, yaitu keluarga dan komunitas di desa,” ujar Lestari dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/9/2026).

Regenerasi Perajin dan Pelaku Budaya
Rerie, sapaan akrab Lestari, menegaskan bahwa di balik narasi besar tentang budaya sebagai mesin ekonomi, terdapat persoalan mendasar yang belum terselesaikan, yaitu regenerasi perajin dan pelaku budaya tradisional terputus.

Kearifan lokal seperti membatik, menenun, dan mengukir tidak lagi secara otomatis diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Tanpa upaya membumikan gagasan ini, kata sirkular hanya akan berputar di atas kertas, tidak pernah sampai kepada mereka yang benar-benar memegang aset budaya,” ujar, Lestari Moerdijat yang juga merupakan anggota Komisi X DPR RI itu.

Tahapan Membangun Ekonomi Budaya Sirkular

Menurut Rerie, sejumlah langkah bertahap perlu dijalankan secara terhubung. Keluarga menghidupkan kembali keterampilan dasar; desa membangun jejaring antarkomunitas; daerah membentuk klaster industri; dan seluruh proses bermuara pada sistem ekonomi kreatif nasional yang berpihak kepada pelaku di akar rumput.

Namun, langkah-langkah tersebut, tegas dia, harus terikat pada kerangka kebijakan dan anggaran yang jelas.

“Tanpa payung kebijakan dan anggaran yang terukur, CCE hanya akan menjadi judul seminar,” tambah Rerie.

Belajar dari Pendekatan Korea Selatan

Ia merujuk pada pendekatan Korea Selatan sebagai perbandingan. Pemerintahan Lee Jae Myung, ujarnya, menargetkan pasar K-culture senilai 400 triliun won pada 2030, dengan dukungan dana kebijakan konten senilai 731,8 miliar won serta insentif fiskal yang terstruktur.

Pemerintah Korea, menurut Rerie, tidak sekadar mengimbau, tetapi membangun ekosistem dari hulu ke hilir.

“Pendekatan itu menunjukkan bahwa transformasi budaya menjadi mesin ekonomi membutuhkan intervensi fiskal terukur, bukan sekadar imbauan,” ujarnya.

Negara Harus Hadir Melindungi Perajin Budaya

Pada akhirnya, CCE bukan sekadar soal narasi besar tentang budaya sebagai kekuatan ekonomi. Apakah negara hadir bagi mereka yang selama ini menjaga warisan leluhur dengan tangan dan hidupnya sendiri.

“Ketika perajin terakhir di sebuah desa menutup pintu rumah untuk selamanya, tidak ada kebijakan yang bisa menghidupkan kembali tangan-tangan yang telah hilang itu,” pungkas Rerie.

Red~ IKN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual

18 Oktober 2026 - 04:52 WITA

Komisi XII DPR Soroti Kelangkaan BBM

16 Oktober 2026 - 02:17 WITA

Rikwanto: Polisi Harus Jadi Pelindung, Bukan Sosok yang Ditakuti Masyarakat

14 Oktober 2026 - 05:49 WITA

RUU SDI Disahkan, Ledia Hanifa: Data Milik Indonesia, Diatur dan Dijaga di Dalam Negeri

12 Oktober 2026 - 05:08 WITA

MPR-RI: Skor Integritas Pendidikan Naik, tapi Kecurangan Akademik Harus Segera Dibongkar

9 Oktober 2026 - 05:59 WITA

Trending di Warta Parlemen