Palangkaraya, infokatulistiwanews.com – Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah memelihara sebuah tradisi sakral, yaitu ritual Tiwah.
Dahulu upacara ritual dilaksanakan oleh satu keluarga secara mandiri, namun kini sering dilakukan secara massal oleh beberapa keluarga sekaligus, bahkan difasilitasi pemerintah daerah sebagai bagian dari pelestarian budaya dan daya tarik wisata.

Ritual Tiwah merupakan rukun kematian tingkat terakhir bagi umat Kaharingan dengan tujuan menghantarkan arwah keluarga yg dicintai menuju ke Lewu Tatau (sorga).
Nilai-nilai dan Makna Filosofis
Ritual tiwah sarat nilai-nilai dan makna filosofis, antara lain sebagai berikut:
Nilai spiritual: Mengantarkan arwah melewati cobaan di alam baka hingga tiba di Lewu Tatau, bersatu dengan Ranying Hatalla (Tuhan).
Nilai sosial: Mempererat ikatan kekeluargaan, gotong royong, dan toleransi antarumat beragama. Warga non-Kaharingan pun kerap membantu pelaksanaan.
Nilai budaya: Menjaga kesinambungan adat, simbol-simbol sakral seperti sapundu, sangkaraya, dan bahalai menjadi penanda identitas Dayak Ngaju.
Nilai moral: Mengajarkan saling menghormati, menghindari konflik, dan mematuhi pantangan (pali) demi menjaga kesucian prosesi.
Di era modern, ritual tiwah tetap menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Dayak Ngaju, namun bentuk pelaksanaannya telah beradaptasi dengan konteks sosial, ekonomi, dan pariwisata.
Kini pelaksanaan tiwah semakin umum dilakukan secara massal untuk meringankan beban biaya keluarga. Pemerintah daerah, tokoh adat dan komunitas Kaharingan sering berkolaborasi dalam penyelenggaraannya hingga memasukkannya sebagai event pariwisata berkala.
Beberapa waktu lalu, Info Katulistiwa News (IKN) sempat melakukan liputan langsung upacara Ritual Tewah yang digelar oleh keluarga besar Alm. Dames Ridin yang merupakan Tokoh Dayak di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Menurut Suel, S.Ag yang merupakan salah satu keluarga tersebut menyatakan, bahwa pihaknya menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang telah mendukung acara ritual ini sehingga terlaksana dengan lancar.
Serangkaian itu pula, mantan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Kota Palangkaraya ini turut prihatin dengan kondisi lingkungan di Kalimantan yang tengah diliputi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
“Kami akan berupaya bersama tokoh-tokoh Kalteng untuk melakukan ritual secara agama dan kepercayaan Kaharingan murni untuk memohon diberikan hujan kepada Ranying Hatala langit di bumi Kalimantan Tengah yang sejalan juga dengan permohonan agama kepercayaan saudara saudaraku yang sebelumnya,” ungkap Suel.
Red~ IKN
Pewarta (Shoyeng T.T Asang)









