Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Serba Serbi

Bahasa Wabo Terancam Punah, BRIN Susun Tata Bahasa untuk Jaga Warisan Papua

badge-check


					Bahasa Wabo Terancam Punah, BRIN Susun Tata Bahasa untuk Jaga Warisan Papua Perbesar

Bahasa Wabo di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, kini hanya dituturkan oleh generasi tua berusia 50-70 tahun. Kondisi itu mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat upaya dokumentasi dan penyusunan tata bahasa deskriptif untuk menjaga kelestarian bahasa yang berstatus kritis tersebut.

BRIN menggelar diskusi kelompok terpumpun untuk memverifikasi data bahasa Wabo di Kantor Bapperida Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, pada 8-12 Juni 2026. Kegiatan itu melibatkan para penutur asli bahasa Wabo, pemerintah daerah, Dewan Adat Yapen, serta Lembaga Perkumpulan Budaya Yapen (Persada).

Ketua Tim Peneliti BRIN, Satwiko Budiono, mengatakan data bahasa Wabo telah diarsipkan dalam Repositori Ilmiah Nasional (RIN) melalui program Language Documentation in Indonesia (Ladin) yang dikelola BRIN.

“Selain itu, data rekaman bahasa Wabo juga telah diarsipkan ke dalam repositori internasional bernama The Endangered Languages Archive (ELAR),” kata Satwiko, Kamis (11/6/2026).

Satwiko menjelaskan kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari riset dokumentasi bahasa Wabo yang dilakukan pada 2023-2024. Setelah proses pengarsipan data pada 2025, BRIN kini memasuki tahap verifikasi untuk menyusun tata bahasa yang dapat menjadi rujukan pelestarian bahasa tersebut.

“Riset dokumentasi bahasa Wabo ini memang memiliki proses kerja yang panjang dan berkelanjutan sehingga membutuhkan bantuan dari berbagai pihak seperti penutur bahasa Wabo itu sendiri dan pihak pemerintah daerah,” ujar Satwiko.

Menurut dia, bahasa Wabo termasuk salah satu bahasa daerah dengan status kritis di Papua karena tidak lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Salah satu penyebabnya adalah larangan penggunaan bahasa Wabo dalam lingkungan pendidikan dan kegiatan keagamaan pada masa lalu.

Akibatnya, penggunaan bahasa Wabo terus menurun dan kini hanya bertahan di kalangan generasi tua. “Kondisi tersebut membuat dokumentasi dan penyusunan tata bahasa deskriptif menjadi penting agar kekhasan bahasa Wabo tetap dapat diwariskan dan dipelajari generasi berikutnya,” kata Satwiko.

Dalam proses verifikasi, peneliti memeriksa kembali kata, frasa, klausa, hingga kalimat yang telah dikumpulkan sebelumnya. Verifikasi dilakukan untuk memastikan seluruh data sesuai dengan penggunaan asli bahasa Wabo serta mendapatkan kesepakatan dari para penutur.

Kepala Bapperida Kabupaten Kepulauan Yapen, Saskar Paiderouw, menyatakan dukungannya terhadap riset yang dilakukan BRIN. Menurut dia, Kepulauan Yapen memiliki banyak bahasa daerah yang menghadapi ancaman kepunahan sehingga membutuhkan perhatian serius.

“Bapperida Kepulauan Yapen berkomitmen terus mendukung dan mengupayakan riset perihal bahasa daerah ini dapat terus dilakukan ke depannya dengan kerja sama maupun kolaborasi dengan BRIN,” ujar Saskar.

Anggota DPRK Yapen, Mikha Runaweri, menilai kegiatan tersebut memberi harapan bagi pelestarian bahasa Wabo yang semakin jarang digunakan masyarakat.

“Dengan adanya kegiatan ini, saya menjadi optimis dan semangat bahwa bahasa Wabo dapat diselamatkan dari ancaman kepunahan,” kata Mikha.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

18 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Juri Pencak Silat Dunia Apresiasi Atlet Tapak Suci SMP Muhammadiyah 2 Kroya

16 Oktober 2026 - 02:19 WITA

Panen Perdana AMA di Liagu, Petambak Masih Evaluasi Hasil Budidaya

14 Oktober 2026 - 05:47 WITA

Harga Pangan Hari Ini 12 Oktober: Beras Naik, Cabai Melonjak

12 Oktober 2026 - 05:11 WITA

Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

10 Oktober 2026 - 04:58 WITA

Trending di Serba Serbi