Menu ✖

Mode Gelap
Presiden Prabowo Sambut Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang TNI AL Amankan Tugboat Pembawa Ribuan Kubik Kayu Log di Perairan Utara Pulau Buru Kisah Ibu-ibu Pemindang Ikan Kusamba, 28 Tahun Kerja Cuma Libur Nyepi-Galungan KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa DPD RI Desak Menag Perkuat Pengawasan Anak Lindungi dari Kekerasan Seksual Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

Serba Serbi

Ismanto: Tinggalkan Profesi Satpam, Kini Sukses Budidaya Mamey Sapote Beromzet Puluhan Juta

badge-check


					Ismanto: Tinggalkan Profesi Satpam, Kini Sukses Budidaya Mamey Sapote Beromzet Puluhan Juta Perbesar

Perjalanan hidup Ismanto (41) berubah drastis setelah ia berani meninggalkan pekerjaannya sebagai satpam dan memilih menekuni dunia pertanian.  Keputusan yang sempat diragukan itu kini justru mengantarkannya menjadi petani sukses dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan.

Dari kebun sederhana di kawasan Mijen, Kota Semarang, ia kini dikenal sebagai pembudidaya buah langka Mamey Sapote, yang bahkan menarik minat pembeli dari luar negeri.

Memulai semuanya dari nol Di balik kesuksesannya, Ismanto memulai segalanya dari nol.

Ia hanya menyisihkan sebagian gajinya dulu untuk membeli bibit tanaman, tanpa pernah menyangka akan berkembang sebesar sekarang.

“Awalnya cuma hobi. Tiap ada sisa uang, beli bibit. Ditanam, tumbuh, dicangkok ternyata laku terus,” terangnya, Selasa (14/4/2026).

Keberhasilan kecil itu perlahan menumbuhkan keyakinannya.

Ia pun mengambil langkah besar dengan meninggalkan pekerjaan lamanya dan fokus penuh mengembangkan usaha tanaman, meski sempat mendapat penolakan dari keluarga.

Perjalanan Ismanto semakin berkembang ketika ia mulai membudidayakan Mamey Sapote, buah asal Meksiko yang masih tergolong langka di Indonesia.

Ia bahkan rela mengeluarkan modal besar pada masanya, sekitar Rp 1,5 juta, untuk membeli bibit awal. Keputusan itu terbukti tepat.

Menciptakan varietas unggul baru Kini, tanaman yang ia kembangkan dikenal memiliki ukuran besar, daging tebal, serta rasa manis yang khas. Bahkan, ia berhasil menciptakan varietas unggul baru dari hasil mutasi alami.

“Dari biji malah keluar yang lebih bagus. Itu jadi keunggulan kita,” ujarnya.

Menembus pasar Internasional

Usaha yang ia rintis dari kampung kini menembus pasar internasional.

Pembeli dari Thailand, Vietnam, hingga India datang langsung atau memesan melalui komunitas dan media sosial.

“Sekarang eranya digital. Mereka lihat di grup, tertarik, lalu datang langsung,” katanya.

Harga bibit pun tidak murah. Untuk ukuran kecil sekitar 60–70 sentimeter, dijual sekitar Rp 1 juta.

Dari usaha tersebut, ia mengaku mampu meraih omzet sekitar Rp 20 juta per bulan, bahkan pernah mencapai Rp 40 juta sebelum pandemi.

“Yang penting konsisten. Tanaman ini sabar, kita juga harus sabar,” katanya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

18 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Juri Pencak Silat Dunia Apresiasi Atlet Tapak Suci SMP Muhammadiyah 2 Kroya

16 Oktober 2026 - 02:19 WITA

Panen Perdana AMA di Liagu, Petambak Masih Evaluasi Hasil Budidaya

14 Oktober 2026 - 05:47 WITA

Harga Pangan Hari Ini 12 Oktober: Beras Naik, Cabai Melonjak

12 Oktober 2026 - 05:11 WITA

Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

10 Oktober 2026 - 04:58 WITA

Trending di Serba Serbi