Perjalanan hidup Ismanto (41) berubah drastis setelah ia berani meninggalkan pekerjaannya sebagai satpam dan memilih menekuni dunia pertanian. Keputusan yang sempat diragukan itu kini justru mengantarkannya menjadi petani sukses dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan.
Dari kebun sederhana di kawasan Mijen, Kota Semarang, ia kini dikenal sebagai pembudidaya buah langka Mamey Sapote, yang bahkan menarik minat pembeli dari luar negeri.

Memulai semuanya dari nol Di balik kesuksesannya, Ismanto memulai segalanya dari nol.
Ia hanya menyisihkan sebagian gajinya dulu untuk membeli bibit tanaman, tanpa pernah menyangka akan berkembang sebesar sekarang.
“Awalnya cuma hobi. Tiap ada sisa uang, beli bibit. Ditanam, tumbuh, dicangkok ternyata laku terus,” terangnya, Selasa (14/4/2026).
Keberhasilan kecil itu perlahan menumbuhkan keyakinannya.
Ia pun mengambil langkah besar dengan meninggalkan pekerjaan lamanya dan fokus penuh mengembangkan usaha tanaman, meski sempat mendapat penolakan dari keluarga.
Perjalanan Ismanto semakin berkembang ketika ia mulai membudidayakan Mamey Sapote, buah asal Meksiko yang masih tergolong langka di Indonesia.
Ia bahkan rela mengeluarkan modal besar pada masanya, sekitar Rp 1,5 juta, untuk membeli bibit awal. Keputusan itu terbukti tepat.
Menciptakan varietas unggul baru Kini, tanaman yang ia kembangkan dikenal memiliki ukuran besar, daging tebal, serta rasa manis yang khas. Bahkan, ia berhasil menciptakan varietas unggul baru dari hasil mutasi alami.
“Dari biji malah keluar yang lebih bagus. Itu jadi keunggulan kita,” ujarnya.
Menembus pasar Internasional
Usaha yang ia rintis dari kampung kini menembus pasar internasional.
Pembeli dari Thailand, Vietnam, hingga India datang langsung atau memesan melalui komunitas dan media sosial.
“Sekarang eranya digital. Mereka lihat di grup, tertarik, lalu datang langsung,” katanya.
Harga bibit pun tidak murah. Untuk ukuran kecil sekitar 60–70 sentimeter, dijual sekitar Rp 1 juta.
Dari usaha tersebut, ia mengaku mampu meraih omzet sekitar Rp 20 juta per bulan, bahkan pernah mencapai Rp 40 juta sebelum pandemi.
“Yang penting konsisten. Tanaman ini sabar, kita juga harus sabar,” katanya.
****









