Chandra Sembiring, bukan dokter biasa. Ketika dokter biasa hanya berkutat merawat dan mengobati pasien, dokter yang satu ini juga menangani pembuatan film. Beberapa film sudah dia bidani bahkan menyabet pengakuan internasional.
Sejak awal kariernya dia terlibat dalam berbagai misi tanggap darurat di daerah-daerah krisis. Dari tsunami Mentawai, Banten juga gempa di Lombok dan Palu maupun Cianjur. Juga, tsunami Banten, kebakaran hutan, sampai konflik di Nusa Tenggara Timur.

Dia juga pernah enam bulan bertugas di kawasan Everest bersama Himalayan Rescue Association, menangani penyakit ketinggian, bidang medis yang jarang dikuasai.
“Ribuan orang mungkin merasa saya yang membantu mereka, padahal sebenarnya saya yang diisi oleh mereka,” katanya.
Bencana dan alam membentuk cara berpikir Chandra. Dia terbiasa merancang operasi darurat secara taktis dan strategis, mulai dari evakuasi medis, logistik obat-obatan, hingga masuk ke wilayah yang hanya bisa terjangkau perahu atau berjalan kaki berhari-hari.
“Gaya saya memang gaya emergency. Kalau agak ngegas, maklumi.”
Pengalamannya berada di berbagai medan dari perang sampai bencana, memunculkan gagasan bikin film sebagai medium membicarakan relasi manusia dan alam. Ia terwujud lewat “Maira, ” film anak berlatar hutan Papua.
Salah satu adegan kunci dalam film itu merekam tumbangnya sebuah pohon raksasa di tengah hutan. Adegan itu bukan hasil rekayasa, melainkan peristiwa nyata saat proses pengambilan gambar.
Bagi Chandra, momen itu merangkum ironi yang ingin disampaikan Maira, yakni, kerusakan hutan di hadapan mata, kerap dianggap biasa.
Dalam skenario awal, katanya, tidak ada adegan penebangan pohon. Jadi itu hasil merekam proses penebangan yang terjadi di lapangan.
“Saya menginformasikan kepada tim bahwa ada pohon yang akan ditebang, lalu sutradara mengubah skrip dan melibatkan para pemain dalam proses itu. Perubahan ini sebagai simbol kepedihan yang dirasakan Maira saat pohon itu ditebang,” kata Chandra.
Chandra bukan sineas yang datang dari dunia film. Dia dokter, lahir 1985, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.
“Saya dokter yang datang dari satu bencana ke bencana lain.
Dari dulu saya punya passion ke alam, gunung dan ke kemanusiaan,” katanya.
Film alat kampanye
Perjumpaan Chandra dengan dunia film terjadi secara organik. Dia gemar memotret momen lapangan dengan kamera sederhana.
Diskusi panjang dengan rekannya, Anggi Frisca, yang kemudian menjadi istrinya membuka perspektif baru bahwa film bukan sekadar hiburan, melainkan alat kampanye yang kuat.
“Teman-teman NGO (organisasi masyarakat sipil) sering bicara sosialisasi, program, indikator output, tapi kalau lewat film, pesan bisa tinggal di kepala orang jauh lebih lama.”
Dia mempelajari dokumenter lintas negara, menonton hampir semua film dokumenter tersedia di platform digital. Dari sana lahir gagasan menjadikan film sebagai medium advokasi lingkungan, kemanusiaan dan kesehatan.
Aksa Bumi Langit Chandra dirikan sebagai perusahaan rumah produksi. KUN Humanity sebagai partner kemanusiaannya. Identitasnya berbeda, tapi tujuannya sama.”
KUN Humanity resmi berdiri pada 2018. Organisasi ini aktif dalam respons bencana dan pembangunan komunitas, termasuk membangun rumah bambu pascagempa dan membuka klinik gunung di Rinjani dan Semeru.
“Kami tidak menarik biaya dari masyarakat,” katanya.
“Pendaki yang membayar, supaya layanan untuk porter dan warga lokal tetap gratis.”
Papua, hutan dan krisis iklim
Film Maira, menjadi kulminasi dari kegelisahan panjang Chandra terhadap krisis iklim. Bagi dia, isu ini tak bisa disederhanakan menjadi sekadar sedotan plastik atau botol minum.
“Climate itu bukan soal plastik saja. Ini soal hutan, ekosistem, pangan, kesehatan, dan ketahanan komunitas.”
Papua dia pilih bukan tanpa alasan. Di sanalah, kerusakan dan keindahan alam hadir bersamaan dalam skala yang nyata.
“Kami tidak akan dapat pohon-pohon sebesar itu di pulau lain. Di Papua, kerusakan itu real. Bekas tebangan sejak 2010 masih terlihat.”
Proses syuting berlangsung di dataran rendah Papua, jauh dari kota. Tantangannya bersifat teknis, yakni, logistik, transportasi, air bersih dan komunikasi.
“Kami bawa mesin cuci lewat kapal berjam-jam, lalu truk,” kenangnya sambil tertawa kecil.
Selama sekitar satu setengah bulan, kru membangun kampung bersama masyarakat lokal, mengikuti gaya hidup dan kebutuhan mereka. Sekitar 30 orang dimobilisasi. Pemain film pun berasal dari Papua.
“Lebih natural, dan jauh lebih sederhana dibanding membawa aktor terkenal,” katanya.
Biaya produksi Maira mencapai Rp9,5 miliar, angka terbilang besar setelah film sebelumnya, Tegar. Chandra tak mengejar pertumbuhan eksponensial.
“Saya percaya growth yang organik. Pelan tapi berakar,” katanya.
Tegar sebuah film anak tentang disabilitas yang melampaui batas layar dan negara. Rilis di Indonesia pada November 2022, film ini ditonton lebih dari 1,7 juta siswa di lebih dari 4.000 sekolah, dan berkembang menjadi medium edukasi inklusi di berbagai daerah.
Di tingkat internasional, Tegar mendapatkan pengakuan luas di berbagai festival film anak dan keluarga. Film ini meraih penghargaan di lebih dari delapan negara, menandai penerimaan lintas budaya terhadap isu inklusi anak penyandang disabilitas.
Sejumlah capaian penting antara lain Film Terbaik Kategori Keluarga di Golden Taiga Award, Rusia, serta Film Terbaik di Universal Kids Film Festival, Turki.
Di Iran, Tegar sebagai Best International Film dalam Golden Butterfly Awards, salah satu festival film anak tertua di kawasan Timur Tengah.
Penghargaan juga datang dari festival di Hungaria, India, China, Inggris, dan Prancis, termasuk kategori Sutradara Terbaik untuk Anggi Frisca dan Aktor Anak Terbaik bagi pemeran utama, M. Aldifi Tegarajasa.
Belajar dari masyarakat adat
Pengalaman panjang di pedalaman, dari Mentawai, Jambi, hingga Papua, membentuk keyakinan Chandra bahwa masyarakat adat memegang kunci ketahanan iklim.
“Mereka hidup sangat dekat dengan hutan. Kalau hutan hilang, mereka tidak bisa bertahan. Itu logika yang sangat sederhana tapi kuat,” katanya.
Dia kerap berdialog dengan kepala adat, mendengarkan cara mereka membangun komunitas dan menjaga sumber pangan. Dari sana, isu iklim dia bingkai bukan sebagai konsep abstrak, melainkan krisis yang nyata dan sedang berlangsung.
“Saya selalu bilang, ini bukan climate change. Ini climate crisis,” katanya.
Chandra berharap Maira bukan menjadi film terakhir. Dia membayangkan dua hingga tiga film setiap tahun, yang mengangkat kisah generasi muda, komunitas lokal dan inspirasi perubahan.
“Film bisa menjangkau lebih dari satu juta orang. Coba hitung, berapa biaya kampanye untuk reach segitu besar kalau pakai cara konvensional?”
Lewat film, dia berharap pesan yang dibawa tak berhenti di lokasi bencana.
“Kalau dari satu pohon yang tumbang itu lahir jutaan pohon baru. Maka semua perjalanan ini layak.”
Bagi Anggi, Chandra bukan hanya sebagai dokter kemanusiaan, tetapi sebagai ekosistem perjuangan yang berkelanjutan.
“Saya ingat satu kalimat yang dia ucapkan, gelar dokter itu bukan kehormatan, tapi kemanusiaan,” kata Anggi.
Mereka bertemu pada 2016. Dari pertemuan itu, lahir visi besar: Aksa Bumi Langit sebagai mesin penggerak, dan KUN Humanity sebagai gerakan kemanusiaan.
Keduanya bertumpu pada satu keyakinan, bahwa, perubahan hanya mungkin jika manusia dan alam diperlakukan sebagai satu kesatuan sistem.
Gagasan film Maira muncul dari kegelisahan Anggi menghadapi isu krisis iklim. Dia sempat kebingungan mencari pendekatan yang tepat.
“Kalau bicara krisis iklim, orang selalu bicara karbon. Padahal persoalannya juga tentang manusia, keadilan, dan relasi kita dengan alam.”
Jawaban itu mereka temukan di Papua. Bersama Chandra, Anggi berjalan hingga dua hari ke wilayah yang belum terjangkau infrastruktur. Di sana, dia menyaksikan masyarakat yang hidup dengan ketahanan luar biasa.
“Makanan ada, air bersih ada. Justru kita yang dari kota ini tidak bisa apa-apa tanpa mereka. Uang tidak penting di sana, karena tidak ada yang menjual apa-apa,” katanya.
Bagi Anggi, masyarakat adat bukan komunitas “tertinggal” seperti kerap dilabeli, melainkan penjaga pengetahuan dan etika lingkungan yang sangat maju.
“Kita menganggap mereka miskin karena tidak punya rumah tembok atau baju bagus. Padahal, mereka punya pengetahuan hutan, tanaman obat, air bersih dan pangan. Itu kekayaan yang tidak dihitung dalam sistem kita.”
Pengalaman itu membentuk narasi Maira: kisah anak-anak, ketegaran dan upaya menjaga hutan adat.
Pesan Anggi sederhana namun mendalam bahwa manusia yang membutuhkan alam, bukan sebaliknya.
“Alam itu hidup. Kita masih belajar bagaimana hidup bersamanya.”
****









