Kepedulian sosial seorang ibu bernama Titik (48) warga Desa Jungkare, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, patut diapresiasi.
Selama lebih dari 5 tahun, ia secara sukarela menampung dan merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan penyitas kanker di rumahnya dengan biaya pribadi.

Tanpa dukungan lembaga resmi maupun bantuan rutin pemerintah, ibu muda tersebut membuka pintu rumahnya bagi ODGJ serta penyitas kanker yang terlantar dan tidak mendapat perhatian keluarga.
Dalam perjalanannya, jumlah ODGJ yang pernah dirawat mencapai 12 orang. Saat ini, masih ada empat ODGJ yang menjalani perawatan intensif di rumahnya.
Perawatan yang diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan dasar seperti makan, kamar tidur, hingga pendampingan pengobatan.
Seluruh biaya perawatan, termasuk konsumsi dan pengobatan, ditanggung secara mandiri oleh sang ibu bersama keluarganya.
Salah seorang penghuni, Sumi (60) warga asal Yogyakarta mengaku, tinggal di rumah relawan mandiri Titik selama 3,5 bulan dan memiliki keluarga di Yogyakarta dan di Jakarta.
“Asal saya dari Yogya, kalau keluarga di Yogya dan Jakarta. Awalnya saya di Solo terus dilempar ke sini di rumah Ibu Titik,” katanya.
Relawan mandiri ODGJ dan penyitas kanker, Titik (48) mengatakan, menjalani relawan mandiri sejak 2019.
Kegiatan itu berawal dari merawat kedua orang tua yang mengalami sakit hingga 10 tahun di rumah dan sempat menjadi relawan kanker di rumah sakit di Klaten.
“Saya memang senang di bidang sosial merawat orang-orang terlantar yang latar belakangi dari bapak ibu saya yang dahulu sakit hingga meninggal dunia,” katanya, Sabtu (31/1/2026).
Titik menyampaikan, selama menjadi relawan kanker di rumah sakit banyak mendapat pembelajaran tersendiri bagaimana merawatnya.
Bahkan, apabila pasien penyitas kanker tersebut tidak kunjung sembuh pasien tersebut di bawa pulang ke rumahnya.
“Karena saya dikenal oleh mereka menjadi relawan kanker, akhirnya saya dihubungi, dan saya bahwa pulang. Saya juga sempat ditanya oleh dokter di sana, kalau jadi relawan tidak dapat gaji,” ujar Titik.
Ia mengutarakan, berawal merawat 12 orang kini hanya tinggal empat orang yang berasal dari berbagai daerah wilayah Jawa Tengah.
“Satu orang sakit struk, dua orang ya kondisi lumayan sehat, dua orang masih menjalani perawatan di rumah. Yang dua itu baru saja pulang dari rumah sakit,” katanya.
Titik menceritakan, suka dukanya sebagai relawan merawat ODGJ cukup banyak, bahkan sempat ada pasien perempuan asal Kebumen, Jawa Tengah yang sempat mengamuk dan merusak perabotan dapur.
“Dulu ada saya dikirim pakai mobil ambulan dari pemerintah desa asal Kebumen, seorang perempuan. Mereka mengamuk, dan telanjang bulat. Televisi di pecah, perabotan dapur dipecah,” ujarnya.
Lanjut Titik, dari kejadian itu sempat mendapat komplain dari para tetangga sekitar, karena mereka merasa terganggu. Namun, berjalannya waktu, warga sudah dapat memahami.
“Kalau sekarang warga di sini sudah paham dengan keluar masuk orang orang seperti itu. Kalau dulu saya pernah dikomplain oleh warga. Sekarang tidak ada masalah,” tandasnya.
Meski dijalani dengan keterbatasan, ibu muda ini tetap berkomitmen membantu memulihkan kondisi para ODGJ agar dapat kembali berfungsi secara sosial.
Kisah kemanusiaan ini menjadi potret nyata kepedulian sosial yang tumbuh dari masyarakat, sekaligus pengingat pentingnya peran bersama dalam menangani persoalan kesehatan jiwa di lingkungan sekitar.
****









