Menu

Mode Gelap
4 Bandara Ditutup Sementara Akibat Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau Korupsi KPR Fiktif Rp237 Miliar, Kejari Karawang Tetapkan 4 Tersangka Terindikasi Kangkangi Aturan, APH Didesak Cabut Izin Usaha Perkebunan PT Ketapang Subur Lestari di Barito Timur PN Manado Sosialisasikan SEMA 2, 3 dan 4 Tahun 2026 ke APH, Soroti Kepastian Hukum Ketua DPD Puji Diplomasi Prabowo di Rusia: FTA Dongkrak Ekonomi Daerah Selamatkan Masa Depan Anak, Densus 88 Bangun Mekanisme Pemulihan dan Pendampingan Terpadu di Sumsel

Serba Serbi

Dua Mahasiswi Ini, Sulap Barang Bekas Jadi Seni Estetik

badge-check


					Dua Mahasiswi Ini, Sulap Barang Bekas Jadi Seni Estetik Perbesar

Di tangan dua mahasiswa asal Kabupaten Gresik, Aisyah Grisseeta Azzahra dan Eidelweis Syahida Ayazhi, barang-barang yang kerap berakhir di tempat sampah seperti gelas plastik dan botol bekas tak lagi dipandang sebelah mata. Melalui sentuhan kreativitas, limbah tersebut disulap menjadi pot tanaman dan hiasan rumah yang estetik.

Kisah inspiratif ini datang dari dua mahasiswa dengan latar belakang pendidikan berbeda, namun dipersatukan oleh semangat berkarya. Aisyah merupakan mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Gresik, sementara Ayazhi menekuni Pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Meski hidup dengan keterbatasan pendengaran, keduanya membuktikan bahwa imajinasi tidak membutuhkan suara untuk bersinar.

Perpaduan antara pemahaman teknologi Aisyah dan kemampuan artistik Ayazhi melahirkan karya yang unik. Dengan ketelatenan tinggi, mereka memoles botol-botol kusam menjadi benda dekoratif ramah lingkungan. Bagi mereka, proyek ini bukan sekadar mengisi waktu luang atau mencari keuntungan finansial semata.

“Tak hanya bernilai ekonomi, tapi pesannya adalah pentingnya daur ulang,” ujar Aisyah dan Ayazhi melalui bahasa isyarat, Jumat (9/1/2026).

Langkah kreatif mereka pun tak berhenti di meja kerja. Keduanya memiliki visi untuk membawa karya ini lebih dekat ke masyarakat. Melalui media sosial dan interaksi langsung di ruang publik, mereka ingin menunjukkan bahwa barang bekas juga memiliki nilai jual.

“Nanti akan kami jual di sana,” ujar mereka, merujuk pada rencana pemasaran secara daring maupun saat kegiatan Car Free Day (CFD) mendatang.

Perjalanan kreatif ini tidak lepas dari dukungan orang tua. Andayani, ibunda Ayazhi, mengaku awalnya melihat putrinya lebih sering menghabiskan waktu dengan ponsel saat liburan. Sebagai penjaga kantin sekolah, ia terus mendorong Ayazhi agar lebih produktif.

“Kami terus memberi masukan dan mendukung agar Ayazhi dan temannya memiliki aktivitas yang lebih produktif,” tutur Andayani.

Kini, melihat botol bekas berubah menjadi karya seni di tangan putrinya, Andayani tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia berharap inisiatif ini menjadi langkah awal menuju masa depan yang lebih mandiri bagi keduanya.

“Semoga mereka bisa terus menciptakan karya baru, menambah wawasan tentang daur ulang, dan melatih imajinasi seni,” pungkasnya penuh harap.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Keluarga Jadi Kekuatan Suksesnya Pembudidaya Ikan Nila Lestari di Manganitu

4 September 2026 - 05:10 WITA

Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali

1 September 2026 - 05:19 WITA

SSB Kolonal Jadi Ruang 60 Anak Solok Selatan Kejar Mimpi Jadi Pesepakbola

28 Agustus 2026 - 04:51 WITA

Ribuan Penari Muda dalam Tari Kolosal

25 Agustus 2026 - 07:19 WITA

Rahayu Saraswati Sebut PIK Berpotensi Jadi Lokasi Marathon Internasional

23 Agustus 2026 - 05:51 WITA

Trending di Serba Serbi