Menu

Mode Gelap
Polemik Tutup-Buka Penyeberangan Perintis di NTT Prajurit Batalyon Hanud 11 Pasgat Laksanakan Lintas Medan Tingkatkan Ketangkasan dan Jiwa Korsa BMKG Ungkap Daftar 17 Wilayah Indonesia Berpotensi Hujan Hari Ini Begini Keseruan Ratusan Siswa SD Main Permainan Tradisional Heboh Bupati Lombok Barat Terjaring OTT KPK Setelah Nobar Piala Dunia Aksi Pemulung Ikut Tambal Jalan Rusak di Padang, Warga Mengaku Sudah Dua Wali Kota Tanpa Perbaikan

Serba Serbi

Dua Mahasiswi Ini, Sulap Barang Bekas Jadi Seni Estetik

badge-check


					Dua Mahasiswi Ini, Sulap Barang Bekas Jadi Seni Estetik Perbesar

Di tangan dua mahasiswa asal Kabupaten Gresik, Aisyah Grisseeta Azzahra dan Eidelweis Syahida Ayazhi, barang-barang yang kerap berakhir di tempat sampah seperti gelas plastik dan botol bekas tak lagi dipandang sebelah mata. Melalui sentuhan kreativitas, limbah tersebut disulap menjadi pot tanaman dan hiasan rumah yang estetik.

Kisah inspiratif ini datang dari dua mahasiswa dengan latar belakang pendidikan berbeda, namun dipersatukan oleh semangat berkarya. Aisyah merupakan mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Gresik, sementara Ayazhi menekuni Pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Meski hidup dengan keterbatasan pendengaran, keduanya membuktikan bahwa imajinasi tidak membutuhkan suara untuk bersinar.

Perpaduan antara pemahaman teknologi Aisyah dan kemampuan artistik Ayazhi melahirkan karya yang unik. Dengan ketelatenan tinggi, mereka memoles botol-botol kusam menjadi benda dekoratif ramah lingkungan. Bagi mereka, proyek ini bukan sekadar mengisi waktu luang atau mencari keuntungan finansial semata.

“Tak hanya bernilai ekonomi, tapi pesannya adalah pentingnya daur ulang,” ujar Aisyah dan Ayazhi melalui bahasa isyarat, Jumat (9/1/2026).

Langkah kreatif mereka pun tak berhenti di meja kerja. Keduanya memiliki visi untuk membawa karya ini lebih dekat ke masyarakat. Melalui media sosial dan interaksi langsung di ruang publik, mereka ingin menunjukkan bahwa barang bekas juga memiliki nilai jual.

“Nanti akan kami jual di sana,” ujar mereka, merujuk pada rencana pemasaran secara daring maupun saat kegiatan Car Free Day (CFD) mendatang.

Perjalanan kreatif ini tidak lepas dari dukungan orang tua. Andayani, ibunda Ayazhi, mengaku awalnya melihat putrinya lebih sering menghabiskan waktu dengan ponsel saat liburan. Sebagai penjaga kantin sekolah, ia terus mendorong Ayazhi agar lebih produktif.

“Kami terus memberi masukan dan mendukung agar Ayazhi dan temannya memiliki aktivitas yang lebih produktif,” tutur Andayani.

Kini, melihat botol bekas berubah menjadi karya seni di tangan putrinya, Andayani tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia berharap inisiatif ini menjadi langkah awal menuju masa depan yang lebih mandiri bagi keduanya.

“Semoga mereka bisa terus menciptakan karya baru, menambah wawasan tentang daur ulang, dan melatih imajinasi seni,” pungkasnya penuh harap.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Begini Keseruan Ratusan Siswa SD Main Permainan Tradisional

22 Juli 2026 - 07:43 WITA

JARR Milik Haji Isam Akui Beli CPO Sitaan Kejaksaan Agung

20 Juli 2026 - 06:27 WITA

Kurangi Ketergantungan Gawai, KKN Unhas Edukasi Siswa SD Permainan Tradisional di Bone

19 Juli 2026 - 06:10 WITA

Pembangunan Tahap II IKN Terus Berjalan, Otorita IKN Lakukan Evaluasi Berkala

17 Juli 2026 - 06:02 WITA

Wimbledon Jadi Bekal Berharga Petenis Muda Indonesia Ethan Jake Frans

14 Juli 2026 - 06:44 WITA

Trending di Serba Serbi