Menu

Mode Gelap
Wamen Imipas Silmy Karim dan 7 Pejabat Imigrasi Ditahan KPK Kodaeral IX-Wanadri ekspedisi selam di Pulau Buru jaga ekosistem laut Titi DJ Buka Suara Usai Sebut Ada yang Lebih Bagus Nyanyikan ‘Sang Dewi’ dari Lyodra Puskesmas Tebing Tinggi Hadirkan Inovasi Cegah Penyakit Menular 3 Eks Pimpinan Lembaga BGN Ditetapkan Jadi Tersangka Terkait Perkara Penyimpangan Tata Kelola MBG Dari Ruang Kelas SMPN 111 Jakarta, Cita-Cita Besar Menggema di Hadapan Presiden Prabowo

Warta Utama

RI Banyak Kasus Korupsi, Kardinal Suharyo Serukan Pertaubatan Nasional

badge-check


					RI Banyak Kasus Korupsi, Kardinal Suharyo Serukan Pertaubatan Nasional Perbesar

Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, memberikan kritik tajam terhadap maraknya kasus korupsi yang menjerat sejumlah kepala daerah belakangan ini.
Dalam momen perayaan Natal, ia menegaskan bahwa jabatan publik yang diemban oleh para gubernur hingga bupati seharusnya menjadi alat untuk menyejahterakan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi.

“Hari-hari ini kita disuguhi berita bupati ditangkap KPK, gubernur ini ditangkap, dan sebagainya. Ini artinya jabatan mereka tidak digunakan untuk mewujudkan kebaikan bersama. Mereka harus bertaubat,” ujar Kardinal Suharyo usai memimpin Misa di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).

Kardinal Suharyo menyoroti adanya pergeseran pola pikir di kalangan pejabat dalam memandang kekuasaan. Menurutnya, banyak pemimpin yang sekadar menikmati fasilitas jabatan tanpa benar-benar menjalankan tanggung jawab moral kepada masyarakat.

Ia membedakan antara sosok yang hanya “menduduki” kursi dengan mereka yang sungguh-sungguh “memangku” jabatan. Menurut dia, yang menduduki jabatan sering kali hanya mencari kenyamanan dan fasilitas demi kepentingan sendiri.

Kardinal Suharyo di Misa Natal Katedral: Korupsi Merusak Masa Depan
Sementara yang memangku jabatan, menggunakan kewenangan sepenuhnya sebagai amanah untuk menciptakan kebaikan kolektif.

“Harapannya, pejabat tidak sekadar menduduki kursi, karena duduk di kursi itu memang enak. Tetapi, mereka harus mengemban amanah. Jika jabatan digunakan untuk kepentingan sendiri, itu salah. Jabatan harus dipangku demi kebaikan bersama,” tegasnya.

Kardinal Suharyo juga mengenang kembali situasi kerusuhan yang sempat melanda Jakarta pada Agustus lalu. Ia menilai rentetan peristiwa tersebut, ditambah dengan masifnya kasus korupsi, merupakan sinyal kuat bahwa Indonesia membutuhkan perubahan batin secara kolektif.

Ia pun menyerukan istilah “Pertaubatan Nasional” sebagai langkah untuk mengembalikan arah bangsa. Suharyo juga menyerukan mengembalikan semangat cita-cita kemerdekaan yang telah dirumuskan secara mendalam dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.

Dia juga menekankan pertaubatan yang tidak hanya soal formalitas, melainkan perubahan sikap batin yang tulus untuk memuliakan Tuhan melalui pengabdian kepada sesama.

Seruan Suharyo ditujukan bagi seluruh elemen bangsa, mulai dari rakyat jelata hingga pemegang kekuasaan tertinggi di lembaga negara.

“Semua mesti bertaubat untuk mengembalikan cita-cita kemerdekaan kita. Dasarnya adalah pertaubatan batin, memuliakan Allah, dan membaktikan hidup bagi Tuhan,” pungkas Suharyo menutup pesan Natalnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Ruang Kelas SMPN 111 Jakarta, Cita-Cita Besar Menggema di Hadapan Presiden Prabowo

3 Juni 2026 - 06:34 WITA

Alumnus Unair Berkarier Jadi Marine Biologist di Maldives

30 Mei 2026 - 01:39 WITA

Kisah Mauliyan dan Ariandi, Orangutan Kurus yang Bertahan di Tengah Krisis Habitat

29 Mei 2026 - 06:36 WITA

Kakek Mujiran di Lampung Ambil Sisa Getah di Kebun PTPN Berujung Dipenjara

25 Mei 2026 - 06:32 WITA

Perjuangan Suami Merawat Istri yang Mengidap Tuberkulosis Tulang

22 Mei 2026 - 07:14 WITA

Trending di Warta Utama