Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Teken Perpres Kesehatan, Atur Integrasi Layanan dari Pusat hingga Desa Rossa Sebut Nama Baiknya Dijadikan Ajang Cari Cuan Clickbait Lewat Link Afiliasi Kepergok ke Kedai Kopi, Napi Korupsi Dipindah ke Lapas Nusakambangan Harga BBM Pertamina Naik, Pertamax Turbo Melejit Jadi Rp19.400 Potret Gereja Pertama IKN, Ada Makna di Balik Desain Indahnya Komisi IX DPR RI Dorong Optimalisasi Program Magang untuk Kurangi Pengangguran Sarjana

Warta Utama

RI Banyak Kasus Korupsi, Kardinal Suharyo Serukan Pertaubatan Nasional

badge-check


					RI Banyak Kasus Korupsi, Kardinal Suharyo Serukan Pertaubatan Nasional Perbesar

Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, memberikan kritik tajam terhadap maraknya kasus korupsi yang menjerat sejumlah kepala daerah belakangan ini.
Dalam momen perayaan Natal, ia menegaskan bahwa jabatan publik yang diemban oleh para gubernur hingga bupati seharusnya menjadi alat untuk menyejahterakan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi.

“Hari-hari ini kita disuguhi berita bupati ditangkap KPK, gubernur ini ditangkap, dan sebagainya. Ini artinya jabatan mereka tidak digunakan untuk mewujudkan kebaikan bersama. Mereka harus bertaubat,” ujar Kardinal Suharyo usai memimpin Misa di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).

Kardinal Suharyo menyoroti adanya pergeseran pola pikir di kalangan pejabat dalam memandang kekuasaan. Menurutnya, banyak pemimpin yang sekadar menikmati fasilitas jabatan tanpa benar-benar menjalankan tanggung jawab moral kepada masyarakat.

Ia membedakan antara sosok yang hanya “menduduki” kursi dengan mereka yang sungguh-sungguh “memangku” jabatan. Menurut dia, yang menduduki jabatan sering kali hanya mencari kenyamanan dan fasilitas demi kepentingan sendiri.

Kardinal Suharyo di Misa Natal Katedral: Korupsi Merusak Masa Depan
Sementara yang memangku jabatan, menggunakan kewenangan sepenuhnya sebagai amanah untuk menciptakan kebaikan kolektif.

“Harapannya, pejabat tidak sekadar menduduki kursi, karena duduk di kursi itu memang enak. Tetapi, mereka harus mengemban amanah. Jika jabatan digunakan untuk kepentingan sendiri, itu salah. Jabatan harus dipangku demi kebaikan bersama,” tegasnya.

Kardinal Suharyo juga mengenang kembali situasi kerusuhan yang sempat melanda Jakarta pada Agustus lalu. Ia menilai rentetan peristiwa tersebut, ditambah dengan masifnya kasus korupsi, merupakan sinyal kuat bahwa Indonesia membutuhkan perubahan batin secara kolektif.

Ia pun menyerukan istilah “Pertaubatan Nasional” sebagai langkah untuk mengembalikan arah bangsa. Suharyo juga menyerukan mengembalikan semangat cita-cita kemerdekaan yang telah dirumuskan secara mendalam dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.

Dia juga menekankan pertaubatan yang tidak hanya soal formalitas, melainkan perubahan sikap batin yang tulus untuk memuliakan Tuhan melalui pengabdian kepada sesama.

Seruan Suharyo ditujukan bagi seluruh elemen bangsa, mulai dari rakyat jelata hingga pemegang kekuasaan tertinggi di lembaga negara.

“Semua mesti bertaubat untuk mengembalikan cita-cita kemerdekaan kita. Dasarnya adalah pertaubatan batin, memuliakan Allah, dan membaktikan hidup bagi Tuhan,” pungkas Suharyo menutup pesan Natalnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ritual Mecak Undat Datah Bilang Diwarnai Lomba Tradisional dan Kesenian

17 April 2026 - 07:38 WITA

Viral Kisah Pilu Sri Apriliani: Hidup Sebatang Kara di Rumah Tak Layak, Menabung Meski Serba Kurang

16 April 2026 - 05:59 WITA

Anak Jalanan-Pengemis Berkeliaran di Mataram Mall, Warga Mengeluh

13 April 2026 - 02:35 WITA

Saksikan Penyerahan Rp11,42 Triliun dan Ratusan Ribu Hektare Lahan Hasil Penyelamatan ke Negara, Prabowo: Kewenangan yang diberikan oleh UUD 45 kepada Presiden RI, saya akan gunakan untuk tegakkan hukum tanpa pandang bulu

11 April 2026 - 06:46 WITA

Veronica Tan Ungkap Kemiskinan Picu Maraknya Kasus Pernikahan Dini di Indonesia

10 April 2026 - 06:13 WITA

Trending di Warta Utama