Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Teken Perpres Kesehatan, Atur Integrasi Layanan dari Pusat hingga Desa Rossa Sebut Nama Baiknya Dijadikan Ajang Cari Cuan Clickbait Lewat Link Afiliasi Kepergok ke Kedai Kopi, Napi Korupsi Dipindah ke Lapas Nusakambangan Harga BBM Pertamina Naik, Pertamax Turbo Melejit Jadi Rp19.400 Potret Gereja Pertama IKN, Ada Makna di Balik Desain Indahnya Komisi IX DPR RI Dorong Optimalisasi Program Magang untuk Kurangi Pengangguran Sarjana

Warta Utama

BNN, Interpol dan BAIS Tangkap Dewi Astutik DPO Gembong Narkoba Jaringan Internasional

badge-check


					BNN, Interpol dan BAIS Tangkap Dewi Astutik DPO Gembong Narkoba Jaringan Internasional Perbesar

Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Interpol dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) telah menangkap Dewi Astutik, yang juga dikenal sebagai Mami. Ia adalah seorang pengedar besar yang terkait dengan jaringan “Segitiga Emas atau Golden Triangle” dan rekan dekat gembong narkoba Indonesia Fredy Pratama.

Mengutip laman Polri Rabu (3/12/2025), ia ditangkap di Sihanoukville, Kamboja, melalui operasi terkoordinasi dengan otoritas setempat dan atase pertahanan Indonesia, sebelum diterbangkan ke Jakarta pada Selasa kemarin. Mengutip Detik, mantan tenaga kerja wanita (TKW) itu terkait kasus penyelundupan dua ton sabu senilai Rp 5 triliun.

“Operasi ini berhasil berkat kerja sama antarlembaga dan internasional yang kuat,” kata Kepala BNN, Komisaris Jenderal Suyudi Ario Seto.

“Akhirnya pada Senin, 1 Desember 2025 sekira pukul 13.39 waktu setempat di area lobby sebuah hotel di Sihanoukville, Kamboja, target terdeteksi berada dalam kendaraan Toyota Prius berwarna putih dan langsung dilakukan upaya penangkapan oleh tim gabungan,” imbuh Suyudi,” tambah Suyudi.

Dewi, yang juga dicari oleh Korea Selatan (Korsel), telah sering berpindah-pindah negara untuk menghindari deteksi. Ia ditahan saat menuju lobi hotel dan kemudian dipindahkan ke Phnom Penh untuk verifikasi sebelum dideportasi.

Penyidik saat ini sedang menyelidiki jaringan keuangan dan logistiknya dan sedang mencari seorang tersangka pria yang diyakini terkait dengan operasinya. Penyelidikan tersebut bertujuan untuk mengungkap sindikat yang terkait dengan kasus narkotika besar pada tahun 2024-2025.

“Berperang terhadap narkoba demi kemanusiaan tentunya sejalan dengan Asta Cita Bapak Presiden. Khususnya poin ke-7 terkait pemberantasan narkoba sebagai bagian reformasi hukum dan ketahanan bangsa,” kata Suyudi menyebut salah satu pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Lalu apa itu Segitiga Emas?
Merujuk Al-Jazeera, Segitiga Emas merujuk geng narkoba di perbatasan Myanmar, Laos, dan Thailand. Wilayah ini menjadi sumber pertumbuhan eksplosif dalam perdagangan narkoba sintetis menyebabkan rekor penyitaan metamfetamin di Asia Timur dan Tenggara pada tahun 2024.

Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) mengatakan rekor 236 ton metamfetamin disita tahun lalu di kawasan Asia Timur dan Tenggara, menandai peningkatan 24% dalam jumlah narkotika yang disita dibandingkan tahun sebelumnya.

“Jumlah 236 ton tersebut hanyalah jumlah yang disita; sebenarnya jauh lebih banyak metamfetamin yang masuk ke pasar,” ujar Penjabat Perwakilan Regional UNODC untuk Asia Tenggara dan Pasifik, Benedikt Hofmann, dalam sebuah pernyataan Mei lalu.

“Meskipun penyitaan ini sebagian mencerminkan keberhasilan upaya penegakan hukum, kami jelas melihat tingkat produksi dan perdagangan metamfetamin yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Segitiga Emas, khususnya Negara Bagian Shan,” kata Hofmann.

Dikatakan pula bagaimana geng narkoba transnasional itu sangat lincah dalam melawan upaya penegak hukum regional untuk memberantas perdagangan narkoba sintetis yang sedang marak. Perang saudara yang terjadi di Myanmar, yang meletus pada pertengahan tahun 2021, juga telah menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi meluasnya perdagangan narkoba.

“Sejak pengambilalihan militer di Myanmar pada Februari 2021, aliran narkoba dari negara tersebut telah melonjak tidak hanya di Asia Timur dan Tenggara, tetapi juga semakin meningkat ke Asia Selatan, khususnya India Timur Laut,” bunyi laporan UNODC

Sementara itu, analis utama untuk Asia Tenggara dan Pasifik, Inshik Sim dari UNODC, juga mengatakan negara-negara tetangga Myanmar menjadi rute utama perdagangan narkoba yang diproduksi di Segitiga Emas.

“Rute perdagangan yang menghubungkan Kamboja dengan Myanmar, terutama melalui Republik Demokratik Rakyat Laos, telah berkembang pesat,” kata Sim, menggunakan akronim yang merupakan bagian dari nama resmi Laos, Republik Demokratik Rakyat.

“Koridor lain yang semakin signifikan melibatkan rute perdagangan narkoba maritim yang menghubungkan Malaysia, Indonesia, dan Filipina, dengan Sabah di Malaysia sebagai pusat transit utama,” ujarnya.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ritual Mecak Undat Datah Bilang Diwarnai Lomba Tradisional dan Kesenian

17 April 2026 - 07:38 WITA

Viral Kisah Pilu Sri Apriliani: Hidup Sebatang Kara di Rumah Tak Layak, Menabung Meski Serba Kurang

16 April 2026 - 05:59 WITA

Anak Jalanan-Pengemis Berkeliaran di Mataram Mall, Warga Mengeluh

13 April 2026 - 02:35 WITA

Saksikan Penyerahan Rp11,42 Triliun dan Ratusan Ribu Hektare Lahan Hasil Penyelamatan ke Negara, Prabowo: Kewenangan yang diberikan oleh UUD 45 kepada Presiden RI, saya akan gunakan untuk tegakkan hukum tanpa pandang bulu

11 April 2026 - 06:46 WITA

Veronica Tan Ungkap Kemiskinan Picu Maraknya Kasus Pernikahan Dini di Indonesia

10 April 2026 - 06:13 WITA

Trending di Warta Utama