Menu ✖

Mode Gelap
KPK Kembali Panggil Satu Tersangka Korupsi Proyek Jalan BBPJN Sumut Menteri PPPA: Setiap Anak Berhak Dapat Pengasuhan yang Aman Dari Minahasa hingga Papua, Budaya Daerah Tampil di Festival Indonesia 2026 Ingin Masuk Malaysia Secara Ilegal Melalui Batam, Belasan WN Vietnam Diamankan TNI AL Paus Leo serukan perdamaian di Yaman, doakan korban serangan Yordania Mimika Kirim 4 Atlet Junior ke Kejurnas Catur di Banten

Serba Serbi

Kisah Inspiratif Anton, Guru Tunanetra yang Menyalakan Cahaya dari Kegelapan

badge-check


					Kisah Inspiratif Anton, Guru Tunanetra yang Menyalakan Cahaya dari Kegelapan Perbesar

Keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi Natalius Anton Patanan, seorang tunanetra untuk menjadi pendidik.

Dia adalah guru di SMPN 1 Sa’dan Matallo, Kabupaten Toraja Utara.

Di balik keterbatasannya, pria kelahiran Sa’dan Matallo, 27 Desember 1981 ini, menyalakan cahaya semangat yang tak pernah padam.

Di usianya yang kini menginjak 43 tahun, Anton menjadi sosok panutan di lingkungan sekolah.

Ia mengajar mata pelajaran Prakarya dan Agama.

Anton dikenal bukan hanya sebagai pendidik yang berdedikasi, tetapi juga sebagai petani tangguh yang tetap bekerja di ladang saat pulang dari sekolah.

Anak keenam dari delapan bersaudara ini lahir dengan keterbatasan penglihatan.

Namun, Anton tak pernah menjadikan itu alasan untuk berhenti bermimpi.

Ia merantau sejak kecil demi mengejar pendidikan, berpindah dari satu kota ke kota lain dengan tekad yang kuat.

Ia menempuh pendidikan dasar di SDN Soppeng, melanjutkan ke SMP YAPTI Makassar, lalu menamatkan sekolah menengah di SMA Protestan YAPIP Makassar.

Semangat belajarnya luar biasa.

Anton bahkan menempuh dua kuliah sekaligus.

Ia mengambil jurusan Teologi di STT Intim Makassar, dan Hukum di Universitas Indonesia Timur.

Tak berhenti di situ, ia kemudian melanjutkan pendidikan S2 di Institut Agama Kristen Toraja dengan jurusan Pendidikan.

Karier mengajarnya dimulai sekitar 17 tahun silam, ketika ia pertama kali diangkat sebagai guru di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Bulukumba.

Setelah beberapa tahun mengabdi, pada 2017 ia dipindahkan ke SMPN 1 Sa’dan Matallo, sekolah tempatnya kini menginspirasi banyak orang.

Sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan IV B, Anton menjalankan tugasnya dengan tanggung jawab besar dan semangat yang tak pernah surut, meski harus berhadapan dengan keterbatasan yang tak mudah.

Ketika ditanya apa yang membuatnya memilih menjadi guru, Anton tersenyum.

Ia menyebut, keinginannya muncul setelah mendengar Doa Jenderal Douglas MacArthur untuk anaknya.

“Dulunya saya tidak pernah terpikir jadi guru. Saya hanya berusaha untuk hidup. Tapi setelah mendengar doa MacArthur yang memohon agar anaknya bisa hidup susah agar mampu memimpin hidupnya sendiri, saya seperti tersadar. Doa itu membuat beban saya hilang,” kenangnya, saat ditemui di sekolahnya, Rabu (30/10/2025).

Doa itu menyentuh hati Anton.

Ia menyadari bahwa setiap kesulitan adalah bagian dari cara Tuhan membentuk dirinya menjadi pribadi yang kuat.

Kini, dari balik keterbatasan penglihatannya, Anton justru menjadi sumber terang bagi murid-muridnya.

Ia membuktikan bahwa cahaya sejati tidak datang dari mata, tetapi dari hati yang tak pernah menyerah.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Minahasa hingga Papua, Budaya Daerah Tampil di Festival Indonesia 2026

26 Oktober 2026 - 10:25 WITA

Lebihi Target di Asian Para Games 2026, Kontingen Indonesia Siap Tatap ASEAN Para Games 2027 dan Paralimpiade 2028

24 Oktober 2026 - 09:56 WITA

BMKG: Keindahan Hunter’s Moon pada 26 Oktober 2026

23 Oktober 2026 - 04:17 WITA

Lestarikan Budaya, PORTINA Sulut Latih Pelatih Olahraga Tradisional

21 Oktober 2026 - 02:27 WITA

Taman Bunga Nusantara Punya Banyak Taman Tematik, Intip Daya Tariknya

18 Oktober 2026 - 04:51 WITA

Trending di Serba Serbi