Dalam kesibukan mengatur pola makan dan mengejar gaya hidup sehat, banyak orang rela membeli suplemen dengan harga ratusan ribu rupiah. Padahal, di balik meja makan tradisional Indonesia, ada camilan sederhana yang juga mampu memberi manfaat bagi tubuh, tape singkong. Makanan hasil fermentasi ini tak hanya nikmat dan murah, tapi juga menyimpan sejumlah zat gizi dan efek positif bagi kesehatan.
Secara teknis, tape singkong dibuat melalui proses fermentasi. Singkong dikukus hingga matang, kemudian diberi ragi dan dibiarkan selama dua hingga tiga hari dalam wadah tertutup. Proses ini memungkinkan mikroorganisme seperti Saccharomyces cerevisiae (ragi) dan bakteri asam laktat bekerja menguraikan karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana, alkohol, dan asam organik. Menurut penelitian di ResearchGate (2023), kadar alkohol dalam tape bisa meningkat seiring lamanya fermentasi, sehingga proses dan durasi sangat menentukan rasa serta kualitasnya.

Dari sisi kandungan gizi, umbi singkong sendiri merupakan sumber karbohidrat tinggi dengan vitamin C, serat, dan pati resisten yang berperan penting bagi pencernaan. Healthline mencatat bahwa 100 gram singkong dapat memenuhi sekitar 20% kebutuhan harian vitamin C. Pati resisten dalam singkong berfungsi seperti serat makanan, membantu menjaga keseimbangan gula darah dan memberi efek kenyang lebih lama. Namun, penting untuk memastikan singkong diolah dengan benar, karena singkong mentah mengandung senyawa sianida yang berbahaya jika tidak dimasak dengan baik.
Fermentasi menjadikan tape singkong memiliki manfaat tambahan. Studi dari Semantics Scholar (2022) menyebut bahwa proses ini menurunkan kadar gula sederhana dan meningkatkan jumlah serat serta pati resisten. Hasil fermentasi juga menambah keberagaman mikroorganisme baik (probiotik alami) yang dapat membantu menyeimbangkan mikrobiota usus, sehingga mendukung sistem pencernaan dan metabolisme tubuh.
Selain itu, laman Andra Farm mencatat bahwa setiap 100 gram tape singkong mengandung sekitar 2 gram serat, 40 gram karbohidrat, dan 169 kilokalori. Kandungan ini menjadikannya sumber energi cepat yang cocok untuk camilan sore hari. Tape juga mengandung vitamin B kompleks hasil aktivitas mikroba selama fermentasi, yang berperan membantu metabolisme tubuh dan menjaga fungsi saraf.
Namun, tidak semua tape singkong aman dikonsumsi dalam jumlah banyak. Proses fermentasi yang terlalu lama atau dilakukan tanpa kebersihan yang baik bisa memunculkan kadar alkohol tinggi dan mikroorganisme yang tidak diinginkan. Penelitian di ResearchGate menunjukkan bahwa kadar alkohol bisa meningkat lebih dari 30% jika fermentasi dibiarkan terlalu lama. Karena itu, pilihlah tape dengan aroma harum khas, tekstur lembut, dan rasa manis alami bukan yang berbau tajam seperti minuman keras.
Untuk memperoleh manfaat optimal, konsumsilah tape singkong dalam porsi wajar, misalnya 50–100 gram per hari. Tape bisa dikonsumsi langsung, dijadikan bahan smoothie, atau campuran salad buah. Hindari penyimpanan terlalu lama karena proses fermentasi akan terus berjalan, mengubah rasa dan komposisi gizinya. Selain itu, penderita diabetes sebaiknya membatasi konsumsi karena kandungan glukosa hasil fermentasi dapat memengaruhi kadar gula darah.
Menariknya, tape singkong juga memberi efek bahagia bagi sebagian orang. Menurut Hello Sehat, makanan hasil fermentasi seperti tape dapat merangsang produksi serotonin hormon yang berperan dalam menjaga suasana hati. Artinya, camilan tradisional ini bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga bisa membantu memperbaiki mood secara alami.
****









