Menu

Mode Gelap
Harga Pangan 7 September: Bawang Merah Turun, Cabai Kembali Naik Dari Laut Untuk Negeri: TNI AL dan Masyarakat Bersatu dalam Semangat, Aku Cinta Laut 4 Bandara Ditutup Sementara Akibat Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau Korupsi KPR Fiktif Rp237 Miliar, Kejari Karawang Tetapkan 4 Tersangka Terindikasi Kangkangi Aturan, APH Didesak Cabut Izin Usaha Perkebunan PT Ketapang Subur Lestari di Barito Timur PN Manado Sosialisasikan SEMA 2, 3 dan 4 Tahun 2026 ke APH, Soroti Kepastian Hukum

Serba Serbi

Festival ke Uma V Hidupkan Kembali Permainan Tradisional Anak di Tengah Sawah

badge-check


					Festival ke Uma V Hidupkan Kembali Permainan Tradisional Anak di Tengah Sawah Perbesar

Suasana ceria dan riuh penuh tawa terdengar dari petak sawah kering di Subak Sidangrapuh, Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan pada Sabtu (27/9/2025).

Bukan karena panen, melainkan karena Festival ke Uma V, sebuah perayaan dua hari yang menyulap sawah menjadi ruang edukasi budaya dan permainan tradisional.

Festival ini digagas oleh Sanggar Buratwangi bekerja sama dengan komunitas Wintang Rare, dengan misi menghidupkan kembali nilai-nilai pertanian dan permainan tradisional Bali yang mulai terlupakan.

‘Matimbang’, Adu Keseimbangan yang Penuh Tawa

Festival dibuka dengan permainan tradisional langka bernama ‘Matimbang’. Di bawah arahan Ketua Sanggar Buratwangi, I Nyoman Budarsana, puluhan siswa dari SD Negeri 1 Marga Dauh Puri dan anak-anak desa lainnya ditantang menyeimbangkan batang bambu kecil dengan dua terong di atas hidung sambil berlari menembus jerami.

Permainan ini, meskipun sederhana, menuntut fokus dan ketangkasan. Tawa pun pecah ketika para peserta kehilangan keseimbangan dan jatuh, disambut sorak-sorai semangat dari anak-anak lainnya yang berjejer di pematang sawah.

“Mereka tak hanya mengenal sawah dan alamnya, tapi juga budaya yang hidup di dalamnya, seperti permainan Matimbang ini,” ujar Kepala Sekolah, Luh Putu Mutiara Roshita Adi, didampingi guru pendamping I Made Wetro, S.Pd.

‘Paid Upih’ di Sawah Berlumpur: Belajar Kompak, Belajar Jatuh dan Bangkit

Keceriaan berlanjut dengan permainan ‘Paid Upih’, atau tarik pelepah pinang di atas lumpur. Permainan ini dimainkan secara berpasangan: satu anak duduk di atas pelepah, sementara rekannya menarik melewati sawah berlumpur.

Momen paling lucu justru terjadi saat para peserta jatuh tergelincir ke lumpur. Tak ada yang marah, semua tertawa, bangkit, dan mencoba lagi.

“Ini pengalaman yang langka di zaman sekarang,” ujar Wetro, yang bahkan menambahkan permainan lari ‘Megandong’ (menggendong teman) untuk menambah keseruan.

Ia juga menyatakan keinginannya memperkenalkan tradisi ‘Matekap’ (membajak sawah secara tradisional) jika festival ini kembali digelar tahun depan.

Dari Sawah ke Layar: Ruang Ekspresi Lewat Film dan Seni

Pada sore harinya, festival dilanjutkan dengan workshop permainan Megandu, salah satu permainan tradisional yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Puncak hari pertama ditutup dengan program “Respon Sosial”, yakni pemutaran tujuh film pendek karya anak-anak dan remaja yang menggambarkan berbagai isu, mulai dari kehidupan keluarga hingga lingkungan sekitar. Festival pun menjelma menjadi ruang ekspresi lintas media dan generasi.

Hari Kedua: Yoga, Film, Ecoprint, dan Pementasan Seni Budaya

Hari kedua festival diisi dengan beragam kegiatan edukatif seperti yoga bersama, workshop pembuatan film, dan workshop Ecoprint dari Institut Desain dan Bisnis Bali, serta pengenalan tanaman herbal lokal.

Festival ke Uma V ditutup dengan pementasan seni budaya Bali, termasuk karya teatrikal “Tanda Tapak” oleh Ida Ayu Tri Wiranti dan “Ahli Fungsi Tangis” oleh Gede Pyrba Wiangga, yang menjadi refleksi atas pentingnya menjaga identitas budaya dalam kehidupan modern.

Menghidupkan Lagi Sawah Sebagai Ruang Budaya

Festival ke Uma V membuktikan bahwa sawah bukan hanya tempat produksi pangan, tetapi juga bisa menjadi ruang edukasi, ekspresi, dan pelestarian budaya.

Di tengah geliat modernisasi, Subak Sidangrapuh menjadi saksi bagaimana lumpur, tawa, dan bambu bersatu untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda Tabanan.

****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Harga Pangan 7 September: Bawang Merah Turun, Cabai Kembali Naik

7 September 2026 - 04:29 WITA

Keluarga Jadi Kekuatan Suksesnya Pembudidaya Ikan Nila Lestari di Manganitu

4 September 2026 - 05:10 WITA

Baru Berusia 11 Tahun, Mikhayla Shanum Caya Jadi Kontingen Indonesia Termuda Asian Games 2026, Targetkan Medali

1 September 2026 - 05:19 WITA

SSB Kolonal Jadi Ruang 60 Anak Solok Selatan Kejar Mimpi Jadi Pesepakbola

28 Agustus 2026 - 04:51 WITA

Ribuan Penari Muda dalam Tari Kolosal

25 Agustus 2026 - 07:19 WITA

Trending di Serba Serbi